Redana Papare: Jawara Asli Papua yang Bikin Kalang Kabut Penjahat

Redana Papare adalah seorang pemuda keturunan suku Asmat yang lahir dan besar di Timika, Papua. Ayahnya, Farizwan, adalah perantau dari Kabupaten Asmat yang memiliki keahlian mengukir. Farizwan bisa berbaur dengan masyarakat luas karena sejak kecil mengikuti program pendidikan dari pemerintah RI.

Awalnya, Farizwan hanya berprofesi sebagai seorang penjual ukiran di Timika. Setelah berkenalan dengan pria bernama Sarce, ia diajak menjadi pegawai Freeport. Farizwan menikah dengan adik Sarce, Serafina. Dari pernikahan itulah Redana lahir.

Redana memeluk agama Kristen sejak kecil seperti ayahnya. Ia mewarisi bakat mengukir dari ayahnya yang merupakan salah satu keterampilan turun temurun dari Suku Asmat. Kakek Redana adalah salah satu tokoh penting di Suku Asmat yang konon memiliki kesaktian khusus.

Namun pada suatu hari, Farizwan mengalami insiden kecelakaan saat mengendarai mobil bersama istrinya. Sementara Redana yang masih SD, saat itu sedang bersama pamannya.

Serafina tewas dan Farizwan disalahkan oleh kakak ipar serta ayah mertuanya, Benny. Padahal ia sudah bersujud-sujud meminta maaf. Hubungan mereka pun renggang.

Pada suatu malam, sekelompok orang mengerumuni rumah Farizwan dan menyerangnya. Dari situlah Redana mengetahui bahwa ayahnya ternyata bisa berkelahi. Farizwan mendesak salah satu penyerang untuk memberi tahu siapa yang memerintahkan mereka.

Farizwan pun terkejut saat mengetahui bahwa Sarce dan mertuanya yang memerintahkan para penyerang. Pada malam itu juga Farizwan baru mengetahui bahwa kakak ipar dan ayah mertuanya adalah simpatisan OPM yang cukup aktif.

Cemas dengan keselamatan anaknya, Farizwan lalu kabur dari Timika membawa serta Redana kembali ke kampung halamannya, Kabupaten Asmat. Selama di sana, Redana mendapatkan pelatihan bela diri khusus dari ayah dan kakeknya.

Bahkan di usia 19, Redana sudah sangat tangguh dalam hal berburu. Redana pun meneruskan bakat mengukirnya, namun ia hanya diizinkan berbisnis dengan orang-orang perbatasan Asmat.

Selama bertahun-tahun tinggal di Asmat bersama putranya, Farizwan berdebat dengan ayahnya mengenai perlakuan Sarce dan Benny. Ayah Farizwan sangat ingin memburu keduanya karena ia memiliki firasat mereka masih terus mengejar Farizwan. Namun Farizwan yang masih memiliki belas kasih enggan melakukannya.

Benar saja dugaan ayah Farizwan. Pada suatu hari, kakek Redana itu meninggal dunia. Sehari setelah pemakaman, terdengar kabar bahwa ada orang-orang bersenjata dengan seragam OPM datang ke Kabupaten Asmat.

Farizwan mengajak sejumlah rekannya di Asmat yang bisa bertarung untuk menghampiri orang-orang itu. Redana awalnya ingin diajak, tapi ia tak ditemukan karena sedang bertemu rekan bisnisnya di salah satu perbatasan yang agak jauh dari lokasi datangnya orang-orang bersenjata. Farizwan sebenarnya lega karena anaknya dijauhi dari mara bahaya yang bisa saja mengancam nyawanya.

Ketika sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya, Redana dihampiri oleh salah satu kerabat di desanya. Ia menyampaikan informasi bahwa ayah Redana hendak menghadapi orang-orang berseragam OPM.

Sementara itu, Farizwan terkejut melihat Sarce berada di antara orang-orang bersenjata. Sarce masih belum memaafkan Farizwan. Salah satu orang penting di OPM mengatakan kepada Sarce bahwa ia melihat Farizwan sengaja membunuh istrinya pada malam kecelakaan karena mengetahui Serafina adalah putri sekaligus adik anggota OPM.

Farizwan langsung menyangkalnya. Ia pun meyakinkan Sarce betapa besar cintanya kepada Serafina dengan memperlihatkan cincin kawin dan kalung pemberian istrinya itu. Farizwan meminta maaf sambil menangis karena tak bisa menyelamatkan adik Sarce. Rekan-rekan Farizwan pun meyakinkan bahwa Farizwan adalah pria yang sangat baik.

Sarce seketika tersadar. Ia lalu meminta maaf dan menyuruh anak buahnya pulang. Ia juga memberi perintah kepada anak buahnya untuk memburu anggota OPM yang telah memfitnah Farizwan.

Rupanya tak semuanya setuju. Tujuh orang di antara anak buah Sarce membeberkan bahwa mereka punya misi khusus, yakni mencuci otak warga sejumlah desa di Asmat agar menjadi anggota kelompok mereka, namun bukan OPM.

Mereka ingin mengajak Farizwan yang sebelumnya pernah tak sengaja memamerkan kemampuan bertarungnya di hadapan anggota OPM pemfitnah Farizwan itu. Si pemfitnah Farizwan ini bernama Brasco. Namun saat ini Brasco sedang tak bersama mereka.

Brasco rupanya sudah menyusun rencana untuk memanfaatkan Farizwan. Ia sengaja merusakkan mobil yang dikendarai Farizwan, sekaligus menguji kemampuan bela diri Farizwan yang memang bisa selamat dengan luka ringan. Tentu saja hal itu membuat Brasco gembira.

Lalu pada malam Farizwan kabur dari Timika, sebetulnya Brasco hendak membujuk Farizwan untuk bergabung dengan organisasinya. Brasco hendak mengatakan kebohongan bahwa mobil Farizwan disabotase dan menjanjikan Farizwan bisa menemukan pelakunya.

Brasco memfitnah Farizwan kepada Benny dan Sarce dengan harapan mereka akan menjauhi Farizwan. Pasalnya, Brasco sudah mengatakan kepada Sarce bahwa ia akan membereskan Farizwan sendirian.

Namun Brasco tak menyangka malam itu Sarce justru terlebih dahulu mengirimkan anak buahnya hingga Farizwan kabur dari Timika. Brasco pun memanas-manasi Sarce untuk mengumpulkan informasi agar bisa menemukan tempat tinggal Farizwan.

Farizwan, Sarce, dan semua anak buah Sarce yang setia pun terkejut dengan pengakuan itu. Saat seorang anak buah Sarce yang setia hendak menembakkan senjata apinya kepada satu dari tujuh pengkhianat, ia malah dihabisi terlebih dahulu oleh pengkhianat yang lain. Lalu terjadilah baku tembak di antara mereka.

Farizwan meminta rekan-rekannya bersembunyi atau kabur. Tanpa diduga, Sarce tewas dalam baku tembak yang juga diselingi baku hantam dan baku sayat itu. Beberapa anak buah Sarce juga ada yang tewas, segelintir dari mereka masih hidup namun terluka parah.

Tujuh pengkhianat tangguh itu pun memperkenalkan diri mereka sebagai anggota organisasi mafia bawah tanah terkuat di negeri ini. Ketujuhnya terlihat mengenakan kalung bersimbol naga.

Mereka mengajak paksa Farizwan untuk ikut bergabung menjadi sekutu atau desanya dihabisi. Farizwan awalnya menolak. Salah satu dari tujuh orang itu pun memberi peringatan kilat dengan menodongkan senapannya ke seorang rekan Farizwan yang masih muda. Farizwan sempat bimbang dan hendak menyerahkan diri.

Tiba-tiba saja sebuah kapak batu dari sisi kiri melayang ke kepala pria yang masih menodongkan senapan itu hingga membuatnya roboh.

Mereka tak dapat melihat sosok penyerangnya. Beberapa dari tujuh anggota mafia itu malah menembak secara membabi buta.

Namun si penyerang lebih tahu posisinya dan merobohkan satu persatu dengan anak panah dan tombak dari balik pohon serta semak-semak.

Saat mereka kesakitan, muncullah si penyerang yang tak lain adalah Redana. Secepat bayangan, Redana melumpuhkan mereka dengan tangan kosong tanpa membunuhnya.

Namun satu orang belum benar-benar roboh dan hendak menembakkan pistolnya ke arah Redana. Sebuah letusan peluru ke kepala menewaskan orang yang hendak menembak Redana. Ia adalah anak buah Sarce yang terluka parah.

Redana pun terkejut saat melihat pamannya, Sarce, bersimbah darah. Farizwan menghampiri jenazah Sarce lalu menutupkan mata dengan tangannya. Pria yang menyelamatkan Redana pun disandarkan ke pohon dengan luka masih menganga.

Pria tersebut mengaku sebagai anggota organisasi pemerintah bernama Singadwirya. Ia sebenarnya hendak memburu anggota mafia yang menyusup sebagai anggota OPM.

Namun setelah menyadari anggota mafia yang bergabung OPM jumlahnya banyak, pria tersebut terpaksa menyamar lebih lama lagi.

Ia memastikan ada beberapa orang anggota mafia yang bergabung dengan OPM sambil menyusun strategi untuk menghabisi mereka di tempat yang tak mencolok agar tak ketahuan oleh pimpinan organisasi mafia tersebut.

Setelah pria tersebut bercerita, terdengar beberapa orang menghampiri mereka, membuat Redana dan Farizwan bersiaga. Pria tersebut meminta mereka tenang karena yang datang adalah rekan-rekannya.

Belasan anggota organisasi Singadwirya yang lain tiba di TKP. Mereka membereskan mayat yang bergelimpangan dan membawa yang terluka.

Pria penyelamat Redana menjelaskan kepada pimpinannya bahwa anak tersebut berbakat sebagai petarung andalan mereka.

Redana pun ditawari untuk bergabung dengan organisasi di bawah binaan BIN. Farizwan sempat mencegah karena ia hanya ingin hidup tenang bersama anaknya.

Namun Redana menyetujui dengan satu syarat. Ia meminta kepada organisasi tersebut agar suatu hari bisa berhadapan dengan Brasco yang sudah membunuh ibunya.

Para anggota organisasi itu pun menyanggupi permintaan Redana. Ternyata, Brasco adalah salah satu orang penting di organisasi mafia tersebut. Sehingga, kemungkinan Redana untuk bisa menghadapinya sangatlah besar.

Namun begitu, Redana harus ikut pelatihan Singadwirya di Jayapura bersama kandidat lain. Tapi pimpinan tim tersebut yakin Redana pasti lolos untuk bergabung.

Farizwan hanya bisa terdiam dan pasrah melihat keputusan putranya. Dengan wajah sedihnya, Farizwan memeluk Redana. Redana pun berjanji akan sesekali menjenguk ayahnya.

Redana Papare akhirnya bergabung dengan organisasi Singadwirya sebagai Jawara Tanah Indonesia. Setelah dinyatakan bergabung, Redana mendapatkan sebuah kalung khusus yang bisa membuat tubuhnya terbang laksana Elang Papua.

(Copyright: Riantrie @rulyriant )

#pabrikjagoanorigins

Komentar