Gentara Mardika: Jawara Asli Nusa Tenggara Barat yang Tambun tapi Lincah

Gentara Mardika, akrab disapa Genta, adalah pemuda muslim yang lahir dan besar di Bima, Nusa Tenggara Barat. Sejak kecil, Genta yang memiliki tubuh tambun, hidup di keluarga yang sangat sederhana dan berkecukupan.

Ayahnya adalah penjual golok yang terkadang mengikuti perlombaan pacuan kuda. Di situlah Genta memiliki pengalaman sebagai joki sejak umur 9 tahun. Dari situ, Genta dan keluarganya mendapat penghasilan tambahan.

Genta juga punya paman bernama Syahril yang mengajarkannya seni tari bela diri Mpa’a Gantao. Syahril memiliki profesi sebagai seniman keliling Mpa’a Gantao yang cukup dikenal di NTB. Orangtua Genta sempat tak setuju melihat anaknya dekat dengan adik dari ibu Genta itu.

Seiring berjalannya waktu, Genta semakin menguasai tarian Mpa’a Gantao. Lulus SMA, ia ingin beralih profesi dari joki pacuan kuda menjadi seniman di usianya yang ke-18.

Sayangnya, sang ayah tak setuju dan memaksa Genta tetap di pacuan kuda. Padahal, kondisi ekonomi mereka melemah. Suatu ketika, rumah Genta diobrak-abrik oleh orang tak dikenal.

Rupanya, sang ayah secara tak sadar telah berbisnis senjata tajam dengan rekanan salah satu anggota mafia berskala nasional. Ayah Genta tak mampu memenuhi target mereka dan tindakan tersebut menjadi peringatan bagi keluarga mereka.

Mengetahui nyawa keluarga kakaknya terancam, Syahril pun memberikan tumpangan menginap kepada Genta beserta kedua orangtua dan adiknya. Syahril juga berjanji akan membantu menyelesaikan masalah mereka.

Ayah Genta yang mulai melunak dan merasa terpukul pun tak berdaya dan meminta maaf kepada adik iparnya. Alhasil, Syahril yang masih lajang pun hari-harinya diramaikan oleh kehadiran keluarga mereka.

Ayah Genta kini membuka penyewaan kuda sementara ibunya berjualan ayam dibantu Genta dan adiknya yang masih SMP. Genta jadi makin mahir dalam menguasai gerakan Mpa'a Gantao karena Syahril tiap hari mengajarinya.

Pada suatu malam, Genta yang belum tidur, melihat Syahril didatangi oleh dua orang pria. Tak jelas siapa, namun Genta mendengar bahwa rumah orangtuanya akan dibakar oleh sejumlah orang.

Rekan-rekan kedua pria itu akan terlambat mencegahnya karena terhambat dalam perjalanan. Sehingga, Syahril harus datang sekarang untuk menghentikannya.

Setelah keduanya pergi selama beberapa menit, Genta pun diam-diam menyusul mereka berdua. Secara spontan, ia membawa golok dagangan ayahnya karena perasaannya tak enak. Rupanya rumah Genta sudah dikerumuni oleh orang-orang berjas hitam.

Mereka tampak seperti hendak memulai aksinya. Genta tak melihat pamannya dan dua orang tadi. Kemungkinan mereka bersembunyi juga sepert dirinya. Lalu tiba-tiba terdengar suara pria kesakitan.

Rupanya Syahril dan dua pria tadi menghabisi para pria berjas hitam itu secara diam-diam secara bertahap. Kekacauan pun dimulai. Senjata api ditembakkan. Kedua pria yang bersama Syahril rupanya juga memiliki senjata api. Hanya Syahril yang menggunakan golok sebagai senjatanya.

Pada beberapa saat, Genta kagum dengan kelincahan Syahril dalam merobohkan para pria berjas hitam itu. Pada saat Syahril terancam, Genta mengumpulkan keberanian untuk membantu pamannya dan merobohkan sejumlah pria berjas hitam.

Syahril terkejut dan sempat protes melihat Genta datang. Namun Genta beralasan ingin melindungi rumah orangtuanya dengan tangannya sendiri. Duet paman dan keponakan ini pun berhasil meredam senjata api dari pria berjas hitam.

Sayangnya masih ada satu moncong senjata api yang siap diletupkan dan itu mengarah kepada Genta. Hanya Syahril yang melihat. Ia pun secara refleks berlari ke arah Genta dan melindungi keponakannya dari tembakan.

Pria berjas itu langsung dihabisi oleh tembakan dari salah satu pria yang bersama Syahril. Genta terpatung sambil menganga melihat pamannya bersimbah darah. Tembakan itu mengenai titik vitalnya.

Kedua pria yang bersama Syahril itu meyakinkan bahwa bantuan sudah dekat dan Syahril akan dirawat. Namun Syahril mengatakan ia tak akan selamat.

Sambil tersenyum, Syahril bercerita kepada Genta yang berlinang air mata bahwa ia selama ini adalah anggota tim Jawara Asli Tanah Indonesia alias JaTI. Kedua rekannya adalah anggota organisasi pemerintah bernama Singadwirya. Mereka memang sudah lama mengincar para mafia itu dengan memanfaatkan ayah Genta sebagai pancingan.

Syahril menitipkan permohonan maaf kepada ayah Genta. Ia juga meminta maaf kepada Genta atas keterlibatan keluarganya. Namun Genta tak mempermasalahkannya. Ia malah berterima kasih kepada Syahril.

Di tengah kondisi yang semakin kritis, Syahril pun menawarkan Genta untuk menggantikannya. Kedua rekan Syahril yang merupakan anggota Singadwirya itu pun menyetujuinya. Hanya saja, pimpinan mereka tak melihat aksi Genta, sehingga mandat dari Syahril direkam.

Begitu kalimat terakhir disampaikan, Syahril sudah tiada dan tangis Genta pun pecah bersamaan dengan datangnya rombongan organisasi Singadwirya lain yang sejak awal dinantikan Syahril dan kedua rekannya.

Meskipun mendapat mandat dari Syahril, Genta tetap menjalani ujian untuk menggantikannya. Karena ada kandidat dari Lombok yang berpotensi menggantikan Syahril. Namun Genta lebih unggul dalam penilaian fisik.

Orangtua Genta pun melepas anak mereka untuk menjadi anggota Jawara Asli Tanah Indonesia. Kemampuan Genta semakin lengkap dengan diberikannya sepasang sepatu berteknologi khusus yang bisa membuatnya berlari kencang bak seekor kuda. Saking kencangnya, ia bisa berlari di atas air.

Copyright: Riantrie (@rulyriant)

#pabrikjagoanorigins

Komentar