Hutan hujan Jambi menyelimuti tepi Sungai Batanghari dengan kabut tipis pagi itu. Pedagang mulai bersiap di sepanjang tepi sungai, termasuk keluarga kecil yang menjajakan lontong sayur dan nasi gemuk—hidangan khas Jambi. Asap dari kuali besar mengepul ke udara, membawa aroma rempah yang menggugah selera.
"Galang, tolong ambilkan bumbu dapur lagi," pinta Sari, wanita paruh baya yang sibuk mengaduk kuah santan di kuali besar.
Galang Saka Rimba, pemuda 18 tahun dengan postur tegap dan wajah teduh, mengangguk pada ibunya. Namun sebelum beranjak, pandangannya terpaku pada bayangan hitam yang melayang di atas air sungai—bayangan yang tak dapat dilihat orang lain.
"Ada apa, Nak?" tanya Hamzah, ayahnya yang baru selesai menata kursi dan meja.
"Tidak ada apa-apa, Ayah," jawab Galang, mengalihkan pandangannya dari makhluk astral tersebut. "Hanya melihat perahu nelayan."
Hamzah menatap putranya dengan sorot mata penuh pengertian. Sebagai seorang kiai yang dihormati di Jambi, dia paham benar apa yang sebenarnya dilihat Galang. Sudah sebelas tahun berlalu sejak insiden kerasukan itu, namun jejak-jejak spiritualnya masih melekat pada diri Galang.
"Jangan terlalu lama memandangi mereka," bisik Hamzah saat Galang lewat di sampingnya. "Ingat apa yang kuajarkan—liat boleh, tegur jangan."
Galang tersenyum tipis. "Saya ingat, Ayah."
Ketika Galang sedang mengambil bumbu di bagian belakang warung, sebuah sensasi dingin mengalir di tengkuknya. Dari sudut matanya, ia melihat sosok transparan seorang wanita tua dengan rambut panjang melayang.
"Ada apa, Nek?" tanya Galang pelan, memastikan tak ada yang mendengar.
"Bahaya..." bisik sosok itu dengan suara parau. "Ada yang tidak beres di Menara Gentala..."
Belum sempat Galang bertanya lebih lanjut, sosok itu menghilang bagai asap tertiup angin. Galang mengerutkan kening, mencoba memahami maksud peringatan itu.
Sore harinya, warung keluarga Saka Rimba dipadati pengunjung. Kebanyakan adalah wisatawan yang baru saja mengunjungi Menara Gentala Arasy—ikon wisata Jambi yang menjulang di tepi Sungai Batanghari.
"Pesanan meja tiga siap!" seru Sari.
Galang mengambil nampan berisi tiga porsi pindang patin dan empat gelas es jeruk nipis. Saat hendak mengantarkan pesanan, ia melihat seorang wanita paruh baya di meja ujung tiba-tiba memegangi kepalanya dengan ekspresi kesakitan.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Galang, menghampiri wanita itu.
Belum sempat wanita itu menjawab, tubuhnya mendadak kejang. Beberapa pengunjung lain mendadak mengalami hal serupa. Jeritan panik mulai terdengar dari berbagai penjuru.
"Ayah!" teriak Galang, mencari sosok Hamzah yang langsung bergegas menghampiri.
"Astaghfirullah... apa yang terjadi?" gumam Hamzah, membantu seorang pria yang jatuh tersungkur.
Kekacauan semakin menjadi ketika beberapa pengunjung mulai berbicara dalam bahasa aneh dan bergerak tidak wajar. Mata mereka merah dan tubuh mereka panas seperti terbakar. Ini bukan kerasukan biasa—ada sesuatu yang lebih gelap dan berbahaya.
"Galang, bantu aku membawa mereka ke tempat teduh," perintah Hamzah.
Saat mereka sedang membantu korban, Galang mendengar teriakan ibunya. "Ibu!"
Sari berdiri terpaku di depan warung, tubuhnya gemetar hebat. "Ga-Galang... Ayah... tolong..."
Sebelum Galang mencapai ibunya, Sari jatuh pingsan. Tubuhnya panas dan bibir mulai membiru. Pandangan Galang menggelap oleh amarah dan ketakutan.
"Ayah, tolong jaga Ibu," kata Galang dengan suara rendah. "Saya harus mencari tahu apa yang terjadi."
"Galang, jangan—"
"Ayah, tidak ada waktu!" potong Galang. "Ibu dan yang lain bisa celaka kalau kita tidak bertindak cepat."
Hamzah menatap putranya, melihat tekad kuat di balik mata yang biasanya teduh itu. Dengan berat hati, ia mengangguk. "Hati-hati, Nak. Jangan gunakan kekuatanmu secara terbuka. Dan ingat, kamu tetap manusia, bukan dukun atau paranormal."
Galang mengangguk, lalu berlari menuju Menara Gentala Arasy.
Menara Gentala Arasy yang biasanya ramai kini tampak mencekam. Beberapa orang tergeletak di tanah, sementara yang lain berlarian panik. Galang menutup mata, berkonsentrasi merasakan energi di sekitarnya.
Seketika, dunia di sekelilingnya berubah. Melalui penglihatan spiritualnya, Galang melihat kabut hitam kemerahan menyelimuti area menara. Di tengah kabut itu, puluhan makhluk astral berkeliaran dengan gelisah, seperti terjebak dalam pusaran energi yang tidak alami.
"Ini bukan wabah biasa," gumam Galang. "Ada yang sengaja menciptakan kekacauan ini."
Galang bergerak mendekati pusat energi negatif. Semakin dekat, sensasi dingin semakin menusuk tulangnya. Di bawah menara, ia melihat sebuah benda kecil berpendar keunguan—sumber dari semua kekacauan ini.
Saat Galang hendak mendekat, sebuah suara mengagetkannya.
"Menjauh dari situ, anak muda."
Galang berbalik dan melihat seorang pria tegap berusia sekitar 40 tahun, mengenakan setelan rapi dengan pin kecil berlambang Pemprov Jambi di jasnya.
"Anda siapa?" tanya Galang waspada.
"Tono Mardi," jawab pria itu sambil menunjukkan kartu identitas. "Konsultan spiritual Pemprov Jambi. Aku di sini untuk mengatasi situasi ini."
Galang merasakan sesuatu yang janggal dari pria itu. Aura di sekitarnya bergelombang tidak natural, seperti topeng energi yang menutupi sesuatu yang lebih gelap.
"Sebaiknya kamu pulang, Nak," kata Tono dengan nada berwibawa. "Ini bukan perkara yang bisa ditangani sembarang orang."
Galang mundur beberapa langkah, berpura-pura menurut. Namun dengan cepat ia memindai objek berpendar keunguan itu sekali lagi. Bentuknya seperti kristal kecil dengan simbol aneh terukir di permukaannya—jelas bukan benda alami.
"Baik, Pak. Saya akan pulang," kata Galang, memutuskan untuk mengamati dari jauh.
Dari kejauhan, Galang menyaksikan bagaimana Tono Mardi mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. Dengan gerakan terlatih, ia membuka kotak itu dan mengarahkannya ke kristal keunguan. Seketika, kabut hitam kemerahan tersedot masuk ke dalam kotak.
Orang-orang yang tadinya kejang mulai tenang. Beberapa petugas Pemprov dan paramedis yang baru tiba bergegas memberikan pertolongan pada korban. Tono Mardi berdiri dengan wajah puas, menerima ucapan terima kasih dan tepukan di bahu dari para pejabat yang hadir.
"Hebat sekali, Pak Tono!" puji seorang pejabat gendut dengan rantai emas tebal di lehernya. "Anda benar-benar aset berharga bagi Jambi."
Tono tersenyum rendah hati. "Hanya menjalankan tugas, Pak."
Galang menyipitkan mata, melihat bagaimana Tono diam-diam menyembunyikan kristal ungu ke dalam sakunya sebelum memasukkan kotak ke dalam tas. Tidak ada yang menyadarinya kecuali Galang.
"Dia pelakunya," bisik Galang pada dirinya sendiri.
Tiga hari berlalu, kondisi Sari dan korban lainnya tidak membaik meski wabah aneh itu sudah "diatasi" oleh Tono Mardi. Mereka tetap lemah, mengalami demam tinggi yang datang dan pergi, serta mimpi buruk yang membuat mereka berteriak di tengah malam.
"Ayah, ini tidak wajar," kata Galang saat menjaga ibunya yang tertidur gelisah. "Sesuatu masih mengikat jiwa mereka."
Hamzah menghela napas berat. "Ayah sudah membacakan doa dan ruqyah, tapi memang ada yang aneh. Seperti ada benang-benang energi yang mengikat mereka pada sesuatu."
"Izinkan saya melihat lebih dalam, Ayah," pinta Galang.
Setelah beberapa saat menimbang, Hamzah akhirnya mengangguk. "Lakukanlah, tapi berhati-hatilah dengan jiwamu sendiri."
Galang menarik napas dalam-dalam, lalu memegang lembut tangan ibunya. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya menembus dimensi yang tak kasat mata.
Dalam penglihatannya, Galang melihat ratusan benang energi keunguan menjalar dari tubuh ibunya dan korban lain, terhubung pada satu titik di kejauhan—mengarah ke pusat kota. Benang-benang itu seperti saluran yang mengalirkan energi kehidupan secara perlahan namun pasti.
Seketika, Galang tersadar. Matanya terbuka lebar.
"Pria itu," desisnya. "Tono Mardi sedang menguras energi kehidupan mereka!"
"Apa maksudmu, Nak?" tanya Hamzah, terkejut.
"Kristal yang dia sembunyikan—itu bukan alat penangkal, tapi pengumpul energi," jelas Galang. "Dia sengaja menyebarkan wabah itu untuk membuat orang-orang lemah, lalu pura-pura menyelamatkan mereka sambil memasang 'jangkar' energi di jiwa korban."
Hamzah menatap putranya dengan sorot mata cemas. "Kamu yakin dengan tuduhan ini?"
"Saya melihatnya sendiri, Ayah," jawab Galang tegas. "Benang-benang energi itu nyata. Jika dibiarkan, Ibu dan korban lainnya akan semakin lemah hingga..."
Galang tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hamzah menatap istrinya yang terbaring lemah, lalu mengangguk perlahan.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Saya harus konfrontasi Tono Mardi dan menghancurkan kristalnya," kata Galang. "Hanya itu cara untuk memutus ikatan energi ini."
"Galang, dia bukan orang sembarangan. Dia punya koneksi dengan pemerintah, dan siapa tahu kekuatan apa yang dia miliki," Hamzah memperingatkan.
"Justru itu, Ayah. Semakin lama dia bebas, semakin banyak korban yang akan jatuh," Galang menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Saya tidak akan membiarkan Ibu dan yang lainnya menderita."
Hamzah terdiam beberapa saat, kemudian menghela napas berat. "Baiklah. Tapi jangan bertindak gegabah. Gunakan kekuatanmu dengan bijak dan ingat ajaran-ajaran yang telah Ayah berikan."
"Saya mengerti, Ayah."
Malam itu, Galang berbaring di tempat tidurnya tapi tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi rencana untuk menghadapi Tono Mardi. Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran yang tidak biasa di kamarnya. Saat membuka mata, kamarnya penuh dengan sosok-sosok tembus pandang.
"Ya Allah!" Galang terkesiap, refleks mengucap doa perlindungan.
"Ja-jangan takut," bisik salah satu sosok, hantu seorang lelaki tua dengan pakaian tradisional Jambi. "Ka-kami butuh bantuan..."
Galang duduk tegak, belum pernah sebelumnya ia didatangi begitu banyak makhluk astral sekaligus. "Ada apa ini? Kenapa kalian mencari saya?"
"Dia... Tono Mardi... menjebak kami..." sosok lain berkata terbata.
"Dia menggunakan kami sebagai sumber energi tambahan," tambah sosok wanita dengan rambut panjang—hantu yang sebelumnya memperingatkan Galang. "Dia menyerap esensi kami hingga kami hampir musnah."
"Dia bukan manusia biasa," sosok lain menimpali. "Dia adalah anggota kelompok bernama Empat Naga, organisasi yang menggunakan energi supernatural untuk tujuan-tujuan jahat."
Mendengar nama "Empat Naga", Galang teringat cerita yang pernah dituturkan kakeknya dulu—tentang organisasi jahat yang konon sudah ada sejak zaman kerajaan.
"Apa tujuannya di Jambi?" tanya Galang.
"Dia berencana menjadikan seluruh penduduk Jambi sebagai 'peternakan energi'," jawab hantu lelaki tua. "Dengan menggunakan kristal-kristal ciptaannya, dia bisa menguras energi hidup ribuan orang secara perlahan tanpa membunuh mereka, menjadikan mereka sumber energi abadi."
"Dan kemudian dia akan menggunakan energi itu untuk apa?"
"Untuk memperkuat dirinya dan organisasinya," jawab hantu wanita. "Dengan energi sebanyak itu, dia bisa mengendalikan seluruh makhluk astral di Jambi, bahkan mengendalikan pikiran manusia secara massal."
Galang mengepalkan tangannya. "Bagaimana cara menghentikannya?"
"Kristal utama," sosok lain menyahut. "Dia menyimpannya di kantor barunya di dekat Menara Gentala Arasy. Selama kristal itu utuh, semua korban akan terus terikat."
Galang mengangguk. "Terima kasih atas informasinya. Saya akan menghentikannya besok."
Namun belum sempat sosok-sosok itu menghilang, salah satu dari mereka tiba-tiba menjerit kesakitan. Tubuh astralnya terlihat seperti tertarik oleh kekuatan tak terlihat.
"Dia memanggil kami," bisik hantu wanita dengan wajah ngeri. "Dia akan menggunakan kami untuk ritual malam ini!"
"Ritual apa?" tanya Galang cemas.
"Ritual untuk memperkuat ikatannya dengan korban-korbannya. Jika ritual itu selesai, ibumu dan yang lain akan terikat permanen padanya," jelasnya sebelum menghilang bersama yang lain, seperti tersedot ke kejauhan.
Galang melompat dari tempat tidur. "Tidak bisa tunggu besok!"
Gedung baru di dekat Menara Gentala Arasy itu seharusnya tutup pada malam hari. Namun, dari kejauhan Galang bisa melihat cahaya keunguan menyala dari jendela lantai atas. Dengan hati-hati, ia mendekati gedung tersebut.
Di halaman, dua pria berbadan kekar berjaga. Galang bersembunyi di balik semak, mengamati. Kedua penjaga itu memiliki aura yang sama seperti Tono Mardi—tertutup topeng energi yang menyembunyikan sesuatu yang lebih gelap.
"Bagaimana caraku masuk?" gumam Galang.
Tiba-tiba, seekor kucing hitam melintasi halaman. Salah satu penjaga tampak terkejut dan waspada, seolah melihat sesuatu yang lebih dari sekadar kucing.
"Mereka bisa melihat makhluk astral juga," simpul Galang.
Menghimpun keberaniannya, Galang memejamkan mata dan berkonsentrasi. Ini pertama kalinya ia akan menggunakan kekuatannya secara aktif, bukan hanya untuk melihat. Dengan napas teratur, ia membayangkan energi di sekitarnya berkumpul di telapak tangannya.
Saat membuka mata, Galang melihat bola api kecil melayang di telapak tangannya.
"Bismillah," bisiknya, lalu melemparkan bola api itu ke arah semak di sisi lain halaman.
Semak itu terbakar, menarik perhatian kedua penjaga yang segera bergegas ke arah api. Galang menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke dalam gedung.
Di dalam, koridor-koridor gelap dan sunyi. Galang mengikuti benang-benang energi keunguan yang terlihat di penglihatannya, menuju ke lantai atas. Semakin dekat dengan sumber energi, sensasi dingin semakin menusuk kulitnya.
Suara gumaman ritual terdengar dari balik pintu di ujung koridor. Dengan langkah hati-hati, Galang mengintip melalui celah pintu.
Di dalam ruangan, Tono Mardi berdiri di tengah lingkaran simbol aneh yang digambar dengan cairan merah. Di hadapannya, kristal ungu berukuran sebesar kepalan tangan berdenyut-denyut, menghisap energi dari sosok-sosok astral yang melayang di sekelilingnya.
"Dengan darah dan jiwa, aku ikat mereka," Tono mengucapkan mantra. "Dengan kristal dan segel, aku kuasai mereka."
Galang merasa mual melihat ritual itu. Makhluk-makhluk astral yang ia temui di kamarnya menjerit kesakitan, sementara kristal semakin bercahaya. Benang-benang energi yang menghubungkan korban-korban di seluruh kota terlihat semakin menguat.
"Ibu..." bisik Galang, membayangkan ibunya yang semakin menderita. Kemarahan membakar di dadanya.
Tanpa pikir panjang, Galang mendorong pintu hingga terbuka.
"Hentikan semua ini!" teriaknya.
Tono Mardi menoleh, terkejut melihat kehadiran tak terduga. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk?"
"Saya Galang, putra dari Hamzah," Galang melangkah maju dengan berani. "Dan saya tahu apa yang kau lakukan pada ibuku dan penduduk Jambi."
Tono tertawa meremehkan. "Ah, anak si kiai... Aku sudah mendengar tentangmu. Anak yang pernah kerasukan dan sekarang memiliki kemampuan 'istimewa'. Lebih baik kau pergi sekarang, bocah, sebelum aku memutuskan untuk menjadikanmu korban berikutnya."
"Tidak sebelum kau hentikan ritual ini dan lepaskan semua korbanmu," tantang Galang.
"Kau pikir kau bisa menghentikanku?" Tono mengangkat tangannya, dan seketika Galang merasakan tekanan berat di dadanya, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya.
Galang jatuh berlutut, napasnya tersendat. Namun, tekadnya tidak goyah. Dengan seluruh konsentrasinya, ia berusaha melawan tekanan itu.
"Astaghfirullahal'adzim..." Galang mengucapkan istighfar, membentuk perisai energi di sekitar tubuhnya.
Tekanan itu perlahan melemah. Tono tampak terkejut. "Kekuatan murni? Menarik... kau lebih kuat dari yang kukira."
Galang bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah kristal ungu. Dengan konsentrasi penuh, ia membentuk bola api di tangannya, lebih besar dari sebelumnya.
"Lepaskan mereka!" teriak Galang, melemparkan bola api ke arah kristal.
Tono bereaksi cepat, mengangkat tangannya untuk menciptakan perisai energi. Bola api Galang membentur perisai itu, menciptakan ledakan energi yang membuat kaca-kaca jendela pecah.
"Kau berani melawanku?" Tono menatap marah. "Anak naif! Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi!"
Dengan gerakan cepat, Tono mengayunkan tangannya, menciptakan gelombang energi hitam yang menghantam Galang hingga terpental ke dinding. Tubuh Galang terasa remuk, tapi tekadnya tidak goyah.
"Aku sudah mengumpulkan energi selama berhari-hari," kata Tono, melangkah mendekati Galang. "Kekuatanku jauh di atasmu."
Galang mencoba bangkit, tapi tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak. Di saat itu, ia melihat sosok-sosok astral yang masih melayang di sekitar kristal. Meski lemah, mereka menatap Galang dengan harapan.
"Bantu kami..." bisik mereka.
Sebuah ide muncul di benak Galang. Mungkin ia tak bisa mengalahkan Tono sendirian, tapi dengan bantuan...
"Kalian yang terjebak," Galang berbisik pada makhluk-makhluk astral itu. "Aku izinkan kalian menggunakan energiku untuk melawan."
Tono yang tidak menyadari komunikasi itu tersenyum puas. "Ada kata-kata terakhir, anak muda?"
"Ya," jawab Galang, menatap tajam. "Kalian semua, SEKARANG!"
Seketika, sosok-sosok astral yang tadinya lemah bergerak cepat menuju Galang. Alih-alih merasukinya, mereka mengelilinginya, membentuk pusaran energi yang berpijar keemasan. Galang merasakan kekuatan baru mengalir dalam tubuhnya.
"Apa yang—" Tono terkejut.
Galang bangkit dengan aura keemasan menyelimuti tubuhnya. Dengan kecepatan yang mengejutkan, ia melesat ke arah Tono dan melayangkan pukulan yang diselimuti api biru.
Tono terhempas ke belakang, menabrak altar ritual. Kristal ungu bergetar hebat akibat guncangan itu.
"Tidak mungkin!" teriak Tono panik. "Kau tidak bisa melakukan ini!"
"Saya bisa dan saya akan menghentikan semua ini," ucap Galang dengan suara yang seolah bergaung dengan ratusan suara lain.
Pertarungan sengit terjadi di ruangan itu. Tono melemparkan serangan demi serangan energi hitam, sementara Galang menangkis dan membalas dengan kombinasi energi dan serangan fisik. Ruangan ritual hancur berantakan, simbol-simbol di lantai memudar terkena hempasan energi yang saling bertabrakan.
Dalam momen Tono lengah, Galang melihat kesempatan. Dengan gerakan cepat, ia meraih kristal ungu itu. Rasa sakit luar biasa menjalar dari tangannya ke seluruh tubuh saat menyentuh kristal tersebut.
"Lepaskan kristalku!" Tono berteriak murka, mencoba merebut kembali.
"Tidak akan!" Galang mengerahkan seluruh kekuatannya. "LEPASKAN MEREKA SEMUA!"
Dengan teriakan penuh tekad, Galang menghancurkan kristal itu dalam genggamannya. Cahaya ungu menyilaukan memenuhi ruangan, diikuti gelombang energi yang menghempaskan segala sesuatu.
Benang-benang energi yang mengikat penduduk Jambi terputus satu per satu. Makhluk-makhluk astral yang terjebak terlepas dari ikatan, melayang bebas dan perlahan menghilang. Tono Mardi tersungkur berlutut, kekuatannya melemah drastis.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya murka. "Tahukah kau berapa lama aku mempersiapkan semua ini?!"
Galang berdiri tegak, masih diselimuti aura keemasan meski mulai memudar. "Ini berakhir, Tono. Kau tidak akan menyakiti siapapun lagi."
"Kau pikir begitu?" Tono tertawa lemah. "Empat Naga tidak akan membiarkanmu hidup setelah ini. Mereka akan memburumu dan keluargamu!"
"Biar mereka datang," jawab Galang tenang. "Aku dan Jambi akan siap."
Tono menatap Galang dengan kebencian mendalam. Tiba-tiba, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya dan melesat ke arah Galang. Galang, yang mulai kehabisan energi, bereaksi terlambat.
Namun sebelum pisau itu mengenainya, sebuah letusan senjata api bergema di ruangan. Tono terhenti, menatap tidak percaya pada lubang peluru di dadanya. Darah merembes cepat dari lukanya sebelum ia ambruk ke lantai.
Galang terkesiap, mencari asal tembakan. Di ambang pintu, seorang wanita muda dengan senapan laras panjang berdiri tegap.
"Targetnya netral," ucap wanita itu ke alat komunikasi di pergelangan tangannya. "Subjek diamankan."
Galang bersiaga, tidak tahu apakah wanita ini teman atau musuh. Wanita itu melangkah masuk, menurunkan senapannya.
"Namaku Kiki, anggota Singadwirya," katanya memperkenalkan diri. "Dan kau pasti Galang Saka Rimba."
"Singadwirya?" Galang mengerutkan dahi, tidak familiar dengan nama itu.
"Organisasi rahasia pemerintah yang bertugas mengawasi dan menangani ancaman supernatural seperti Empat Naga," jelas Kiki. "Kami telah memantau Tono Mardi selama beberapa waktu, tapi kau berhasil menghentikannya lebih cepat."
Galang menatap tubuh Tono yang tergeletak. "Kau membunuhnya..."
"Kami tidak punya pilihan," Kiki menjawab datar. "Dia adalah anggota berbahaya Empat Naga. Jika dibiarkan hidup, dia akan kembali dengan kekuatan lebih besar."
Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Beberapa pria dan wanita berseragam hitam memasuki ruangan, membentuk formasi pengamanan.
"Area aman," lapor salah satu dari mereka. "Ritual terhenti dan koneksi energi terputus."
Kiki mengangguk, lalu kembali menghadap Galang. "Apa yang kau lakukan hari ini sangat berani dan mengagumkan. Tidak banyak yang bisa menghadapi anggota Empat Naga seorang diri, apalagi menghancurkan ritual mereka."
"Saya hanya ingin menyelamatkan ibu saya dan penduduk Jambi," jawab Galang sederhana.
"Dan itulah yang kami cari," Kiki tersenyum tipis. "Kami di Singadwirya membutuhkan orang sepertimu—seseorang dengan kekuatan dan tekad untuk melindungi."
"Apa maksudmu?"
"Kami menawarkanmu posisi di Jawara Tanah Indonesia," Kiki menjelaskan. "Unit khusus Singadwirya yang terdiri dari petarung-petarung terbaik dari seluruh provinsi. Dengan kemampuanmu, kau bisa menjadi perwakilan Jambi, menjadi benteng pertahanan melawan ancaman seperti Empat Naga."
Galang terdiam, memikirkan tawaran itu.
"Aku tidak bisa menjawab sekarang," katanya akhirnya. "Aku harus membicarakannya dengan orangtuaku."
"Tentu," angguk Kiki. "Kami mengerti keputusan seperti ini butuh pertimbangan. Temui kami besok di alamat ini." Ia menyerahkan sebuah kartu nama dengan alamat yang tertulis di bagian belakang.
Keesokan harinya, Galang duduk bersama kedua orangtuanya di ruang tamu sederhana mereka. Sari, yang sudah pulih sepenuhnya setelah kristal dihancurkan, tampak khawatir. Hamzah menatap putranya dengan sorot mata penuh pertimbangan.
"Jadi mereka menawarkanmu untuk bergabung dengan organisasi rahasia pemerintah?" tanya Hamzah.
"Iya, Ayah," jawab Galang. "Mereka bilang saya bisa kuliah juga nanti."
Sari menggenggam tangan suaminya. "Tapi bahaya, Hamzah. Kita sudah nyaris kehilangannya sekali waktu kerasukan dulu."
"Ibu," Galang menatap ibunya lembut. "Justru pengalaman itu yang membuat saya memiliki kemampuan untuk membantu orang. Bukankah Ayah selalu mengajarkan bahwa kelebihan yang Allah berikan seharusnya digunakan untuk kebaikan?"
Hamzah menghela napas panjang. "Ayah hanya ingin kau hidup normal, Nak. Tapi Ayah juga tahu kemampuanmu bukan tanpa tujuan."
"Saya tidak bisa pura-pura tidak melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat, Ayah," kata Galang. "Dan setelah kejadian semalam, saya tahu ada kejahatan yang bahkan lebih besar di luar sana."
Sari menangis pelan. "Ibu takut kehilanganmu, Nak."
"Saya akan selalu kembali, Bu," janji Galang. "Dan dengan bergabung dengan Singadwirya, saya juga bisa melindungi Jambi—termasuk Ayah dan Ibu."
Hamzah terdiam lama, mempertimbangkan segala aspek. Akhirnya, dengan berat hati ia berkata, "Putusan ada di tanganmu, Nak. Ayah dan Ibu akan mendukungmu apapun pilihanmu."
Sore itu, Galang menemui Kiki dan timnya di sebuah gedung pemerintah yang tampak biasa di luar, namun memiliki ruang bawah tanah penuh peralatan canggih.
"Saya memutuskan untuk menolak tawaran Anda," kata Galang tegas.
Kiki tampak kecewa. "Apa yang membuatmu memutuskan begitu?"
"Orangtua saya," jawab Galang jujur. "Mereka sudah berkorban banyak untuk saya. Saya tidak bisa meninggalkan mereka untuk bergabung dengan organisasi rahasia, bahkan jika tujuannya mulia."
Kiki mengangguk paham. "Aku menghormati keputusanmu. Tapi ketahuilah, Empat Naga tidak akan berhenti. Jambi bisa terancam lagi kapan saja tanpa perlindungan."
"Saya tahu," balas Galang. "Dan jika itu terjadi, saya akan siap melindungi kota ini dan keluarga saya."
Pembicaraan mereka terhenti ketika salah satu anggota tim Kiki mendekati dengan wajah tegang.
"Ada apa?" tanya Kiki.
"Tim pengawasan melaporkan aktivitas mencurigakan di Sungai Batanghari," jawab agen tersebut. "Energi sejenis yang digunakan Tono Mardi terdeteksi lagi, tapi dalam skala lebih kecil."
Wajah Kiki mengeras. "Empat Naga mengirim pengganti lebih cepat dari yang kuduga." Ia menoleh pada Galang. "Ini baru permulaan. Tanpa bantuan Singadwirya, kau akan berjuang sendirian."
Galang mulai ragu dengan keputusannya. "Apa... apa yang akan terjadi pada Jambi kalau saya tidak bergabung?"
"Kami tetap akan melindunginya sebisa mungkin," jawab Kiki jujur. "Tapi kami kekurangan personel, terutama yang memiliki kemampuan sepertimu. Tanpa Jawara lokal, respons kami akan lambat dan terbatas."
"Dan orangtua saya? Bagaimana dengan kehidupan mereka jika saya bergabung?"
"Mereka akan mendapat perlindungan penuh dari Singadwirya. Kami juga bisa memastikan kondisi finansial mereka terjamin. Kau akan tetap bisa mengunjungi mereka saat tidak bertugas."
Galang termenung. Ia membayangkan ibunya yang hampir kehilangan nyawa karena ritual Tono Mardi. Bagaimana jika hal serupa terulang dan ia tidak ada di sana untuk menghentikannya?
"Saya perlu bicara dengan orangtua saya sekali lagi," katanya akhirnya.
Di warung tepi Sungai Batanghari, Hamzah sedang membereskan peralatan dagang ketika Galang kembali dengan wajah serius.
"Ternyata ada ancaman baru, Ayah," Galang langsung menjelaskan situasinya. "Empat Naga tidak berhenti dengan kematian Tono Mardi."
Hamzah menghentikan kegiatannya. "Mereka mengincar Jambi lagi?"
"Iya, Ayah. Dan kemungkinan besar mereka juga akan membalas dendam atas kematian Tono Mardi—terhadap saya dan mungkin keluarga kita."
Sari yang mendengar dari kejauhan, mendekat dengan wajah cemas. "Ya Allah, apa tidak ada jalan keluar lain?"
"Ada," jawab Galang. "Singadwirya menawarkan perlindungan untuk Ayah dan Ibu jika saya bergabung dengan mereka. Mereka juga akan memastikan kondisi Ayah dan Ibu terjamin secara finansial."
Hamzah dan Sari saling berpandangan. Mereka tahu inilah pilihan tersulit yang pernah dihadapi keluarga mereka.
"Nak," kata Hamzah akhirnya, "mungkin ini memang takdirmu. Kekuatan yang kau miliki... mungkin Allah memberikannya bukan hanya untuk melindungi kami, tapi juga orang banyak."
"Tapi Ayah, bagaimana dengan Ibu? Dengan warung kita?"
"Ibu akan baik-baik saja," Sari tersenyum lemah. "Asalkan kamu selalu kembali dan tidak melupakan kami."
"Tidak akan pernah, Bu," Galang memeluk ibunya erat.
Hamzah menepuk pundak putranya. "Dulu Ayah memandang kekuatanmu sebagai kutukan. Tapi sekarang Ayah tahu, itu adalah amanah. Dan sebagai muslim yang baik, kita harus menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya."
Dengan mata berkaca-kaca dan hati mantap, Galang mengangguk. "Saya akan kembali ke Singadwirya dan menerima tawaran mereka."
Tiga bulan kemudian, di fasilitas pelatihan rahasia Singadwirya di pegunungan Jambi, Galang berdiri tegap menghadap instrukturnya. Tubuhnya telah lebih kekar, dan matanya memancarkan ketajaman yang belum pernah ada sebelumnya.
"Kemampuanmu berkembang luar biasa cepat," puji Kiki yang kini menjadi mentor langsungnya. "Kau telah menguasai teknik dasar pengendalian energi dalam waktu singkat."
"Terima kasih," jawab Galang singkat, masih mengatur napasnya setelah sesi latihan intensif.
"Ada satu hal lagi yang ingin kutunjukkan padamu," kata Kiki, membuka sebuah kotak kayu dengan ukiran kuno.
Di dalamnya terdapat sebuah gelang dari logam keemasan dengan ukiran simbol-simbol yang Galang tidak kenali. Di tengahnya, sebuah batu berwarna hijau berpendar lembut.
"Apa ini?" tanya Galang ingin tahu.
"Batu Langit—material langka yang memiliki kekuatan supernatural," jelas Kiki. "Batu ini resonansinya cocok denganmu. Dengan ini, kekuatanmu bisa terfokus dan terkendali lebih baik."
Galang mengamati gelang itu dengan takjub. "Bagaimana cara kerjanya?"
"Batu Langit dapat memperkuat koneksimu dengan dimensi astral dan memberikan kendali lebih baik atas kemampuan telekinesis dan pyrokinesis yang sudah kau miliki. Selain itu, batu ini memiliki elemen khusus yang selaras dengan hutan dan rawa Jambi."
"Maksudnya?"
"Cobalah," Kiki mendorong Galang untuk memakai gelang tersebut.
Begitu gelang itu melingkar di pergelangan tangannya, Galang merasakan energi hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanaman-tanaman di sekitar ruangan latihan bergerak seolah hidup, mengarah padanya. Sebuah tanaman pakis kecil di pot bahkan tumbuh beberapa sentimeter dalam sekejap.
"Luar biasa," gumam Galang takjub.
"Dengan kekuatan ini, kau bisa mengendalikan flora di sekitarmu, bahkan menumbuhkan tumbuhan dalam waktu singkat," jelas Kiki. "Sangat berguna untuk pertempuran atau misi penyelamatan di wilayah hutan dan rawa seperti Jambi."
Galang menatap tangannya yang kini diselimuti pendar hijau lembut. "Dengan kekuatan ini, saya bisa melindungi Jambi lebih baik lagi."
"Dan itulah mengapa kau dipilih sebagai Jawara Tanah Indonesia untuk Provinsi Jambi," Kiki mengangguk puas. "Mulai hari ini, kau resmi menyandang gelar 'Galang Saka Rimba, Penjaga Rawa dan Rimba'."
Galang membungkuk hormat, menerima tanggung jawab besar itu dengan kerendahan hati seorang pelindung sejati. Di benaknya, ia teringat perjalanan panjangnya—dari anak yang pernah kerasukan, menjadi seorang Jawara yang dipercaya melindungi tanah kelahirannya.
"Bismillah," bisiknya. "Untuk Jambi, untuk Indonesia, dan untuk kebenaran."
Sementara itu, di sebuah ruangan rahasia di sudut kota Jakarta, sesosok pria berpakaian mewah dengan kalung berlambang naga merah menatap layar yang menampilkan data tentang Galang.
"Jadi Singadwirya menemukan Jawara baru untuk Jambi," gumamnya. "Menarik."
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya seorang asistennya.
"Biarkan dia berkembang dulu," jawab pria itu sambil tersenyum dingin. "Kita lihat seberapa jauh Penjaga Rawa dan Rimba ini bisa bertahan melawan Empat Naga."
Pria itu mengusap kalung naganya, matanya berkilat penuh ambisi dan rencana jahat yang masih terpendam. Pertarungan antara Singadwirya dan Empat Naga telah memasuki babak baru dengan kehadiran Galang Saka Rimba.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar