![]() |
| Anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (Liden Films via IMDb) |
Anime adaptasi Tojima Wants to be a Kamen Rider akhirnya resmi menutup tirai. Mengudara sejak Oktober tahun lalu hingga Maret ini, serial yang diadaptasi dari manga cult-classic karya Yokusaru Shibata ini sempat sukses memancing perbincangan hangat. Namun, seiring dengan berakhirnya episode pamungkas, banyak hal yang dirasa seperti ada ruang kosong yang ditinggalkan.
Sebagai informasi, anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (2025) telah berjalan selama 24 episode (2 cour) berturut-turut, di mana cour kedua yang dianggap sebagai lanjutan atau musim kedua, dimulai pada 10 Januari 2026. Episode 13 tayang pada 27 Desember 2025, dan cerita berlanjut hingga episode 24.
Bagi yang belum familier, karya ini bukanlah cerita pahlawan super konvensional. Ceritanya berpusat pada sosok Tojima, seorang pria berusia 40 tahun yang berlatih keras sejak remaja hingga meyakini dirinya sekuat seorang cyborg modifikasi Kamen Rider. Ia merasa memikul beban berat untuk membasmi kejahatan ala pahlawan Kamen Rider era Showa di tengah kehidupan modern yang damai. Obsesinya yang kelewat batas ini justru menjadi nyawa utama dari komedi gelap yang ditawarkan.
Premis animenya sempat dijanjikan setia pada materi aslinya, menyoroti bagaimana kehidupan sehari-hari Tojima yang selalu membayangkan keberadaan organisasi jahat sekelas "Shocker" di setiap sudut kota. Mulai dari tukang pos, petugas kebersihan, hingga ibu-ibu kompleks, tak luput dari kecurigaannya sebagai agen rahasia Shocker yang menyamar.
Daya tarik terkuat dari serial ini justru terletak pada kontras antara dunia nyata yang membosankan dengan visualisasi hiperbolis di sekitar Tojima. Tim sutradara anime ini sempat menjanjikan akan mengeksplorasi transisi visual tersebut secara ekstrem, mengubah jalanan gang sempit seketika menjadi arena pertarungan di tebing batu berkabut yang dramatis hanya dalam satu kedipan mata.
Seiring kisah berjalan, rupanya semua hal yang dianggap Tojima sebagai halusinasi malah berbuah menjadi kenyataan. Kehadiran Shocker yang selama ini hanya dilihatnya melalui layar kaca, rupanya perlahan mulai muncul dalam kehidupannya. Bahkan bukan hanya pasukan Shocker semata, monster-monster yang pernah menjadi musuh Kamen Rider dalam serialnya pun turut eksis di dunia nyata dan menyamar menjadi manusia.
Tentu saja, petualangan Tojima tidak akan lengkap tanpa kehadiran para karakter pendukung yang tak kalah eksentrik. Salah satu yang paling menarik kemunculannya di layar kaca adalah Yuriko Okada, karakter wanita berfisik baja yang sering kali terseret ke dalam kekacauan yang juga menyeret Tojima.
![]() |
| Anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (Liden Films via IMDb) |
Yuriko sendiri memiliki dinamika penokohan yang sangat unik. Ia adalah representasi dari karakter pahlawan wanita pendamping klasik (merupakan representasi sosok Electro-Wave Human Tackle dalam serial Kamen Rider Stronger), namun dengan kepribadian yang memadukan kenaifan total dan kebrutalan fisik. Interaksinya dengan Tojima dan musuh-musuh mereka terkadang menjadi punchline yang memancing gelak tawa para pembaca manga aslinya.
Selain Yuriko, aksi Tojima juga turut ditemani oleh Ichiyo Shimamura yang mengambil peran tematik V3 yang motivasinya adalah melindungi adiknya (Mitsuba) setelah keluarga mereka diserang Shocker di masa lalu.
Lalu ada Mitsuba Shimamura yang mengambil identitas Riderman. Dia juga korban trauma Shocker seperti kakaknya. Posisi Mitsuba adalah memiliki pacar agen Shocker yang membuatnya secara tematik mirip Riderman, yaitu orang dalam yang berbalik melawan.
Terakhir ada Yukarisu, siswi SMA yang benar-benar jelmaan agen Shocker asli namun memilih membelot dan bergabung dengan tim setelah ia benar-benar jatuh cinta pada Mitsuba.
Hingga kini, belum ada kepastian dari pihak studio apakah anime ini akan berlanjut ke fase selanjutnya atau berhenti sampai di sini saja.
Secara garis besar, paruh awal musim ini berhasil mengeksekusi premis komedi absurd dan drama emosionalnya dengan sangat baik. Penghormatan terhadap estetika era Showa serta penggambaran betapa kerasnya dunia orang dewasa yang dihadapkan pada organisasi jahat dunia nyata tanpa adanya sosok sakti yang bisa melawan secara mudah adalah nilai jual utamanya.
Sayangnya, memasuki pertengahan hingga akhir musim, fokus cerita terasa mulai bergeser dan sedikit melenceng dari apa yang membuat audiens jatuh cinta pada awalnya.
![]() |
| Anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (Liden Films via IMDb) |
Di balik kualitas animasinya yang patut diapresiasi, sorotan tajam justru mengarah pada struktur naratif dan porsi karakterisasinya. Kelima tokoh utama—yakni Tojima, Yuriko, Ichiyo, Mitsuba, dan Yukarisu—sebenarnya memiliki chemistry yang luar biasa. Setiap kali mereka berinteraksi dalam satu layar, dinamika cerita selalu terasa hidup. Namun, entah mengapa, naskah animenya seolah terlalu berambisi untuk memperluas semesta cerita dengan memasukkan elemen-elemen yang terasa kurang esensial.
Salah satu kelemahan paling kentara dari serial ini adalah terlalu banyaknya karakter filler di luar kelima tokoh utama yang bermunculan. Alih-alih memperdalam konflik batin dan latar belakang para tokoh utama yang sudah kuat, durasi episode justru banyak terkuras untuk mengeksplorasi karakter-karakter baru. Akibatnya, fokus cerita menjadi terpecah dan plot utama terasa berjalan di tempat tanpa progres yang berarti.
Lalu, hal lain yang lebih mengecewakan lagi, nasib dari deretan karakter filler ini dibiarkan menggantung tak berujung di episode penutup. Tidak ada konklusi yang jelas mengenai apa yang terjadi pada mereka setelah konflik usai. Hal ini memberikan kesan bahwa keberadaan mereka hanyalah alat perpanjangan durasi semata, tanpa ada niat nyata dari penulis naskah untuk mengintegrasikan mereka secara utuh ke dalam benang merah cerita para tokoh utama.
Keputusan kreatif lain yang mengundang tanda tanya adalah eksekusi konsep musuh, khususnya pada arc Manusia Kelelawar. Ide untuk menggunakan metode "penyusupan lewat industri Idol" sebagai bagian dari agenda jahat Shocker terasa sangat dipaksakan dan out-of-place alias tidak pada tempatnya. Untuk sebuah organisasi fiktif yang memancarkan aura monster super old-school yang kejam, taktik idol modern ini justru meruntuhkan wibawa kejahatan mereka dan membuat ancamannya terasa seperti lelucon yang salah tempat.
![]() |
| Anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (Liden Films via IMDb/Crunchyroll) |
Beralih ke jajaran karakter pendukung, transformasi karakter bos Yakuza di serial ini juga dirasa kurang memuaskan. Karakter yang awalnya diperkenalkan dengan aura bahaya dan intimidasi dunia bawah ini, pada akhirnya malah disetir menjadi sosok "karakter pendukung yang baik hati" secara klise. Hilangnya ketegangan moral dari karakter ini membuat dinamikanya menjadi tumpul, membuang potensi konflik yang sebenarnya bisa sangat memperkaya kedalaman dunia Tojima.
Tidak berhenti di situ, elemen asmara yang disisipkan ke dalam cerita juga menjadi salah satu keluhan utama penonton. Percikan-percikan romansa yang sempat ditebar sejak awal tidak pernah benar-benar digarap dengan matang. Alih-alih menjadi bumbu penyedap, subplot asmara ini malah dibiarkan ambigu dan berujung anti-klimaks di akhir musim, menyisakan rasa tidak puas bagi mereka yang mengharapkan konklusi emosional antarkarakter.
Namun, ironi terbesar dari anime Tojima Wants to be a Kamen Rider ini adalah absensinya sang karakter utama itu sendiri. Sangat disayangkan melihat Tanzaburo Tojima sering kali tidak mendapat jatah screen-time yang layak. Ada terlalu banyak episode di mana sosoknya dihilangkan sama sekali, padahal dialah jangkar utama yang menghubungkan realita sosial yang pahit dengan delusi heroik yang menjadi inti dari karya ini.
Tanpa kehadiran Tojima, episode-episode tersebut terasa kehilangan ruh aslinya. Sudut pandangnya yang kelewat halu namun penuh kehangatan dan tekad mendalam adalah elemen yang membuat serial ini unik. Menggantikan porsi layar Tojima dengan karakter-karakter filler, membuat serial ini terkesan gagal mempertahankan daya tarik naratif, membuat ritme penceritaan di paruh kedua musim terasa sangat timpang dan kehilangan pijakan.
![]() |
| Anime Tojima Wants to Be a Kamen Rider (Liden Films via IMDb) |
Pada akhirnya, episode terakhir yang telah berlalu masa tayangnya ini lebih terasa seperti sebuah titik jeda yang canggung alih-alih konklusi musim yang memuaskan. Jika komite produksi merencanakan Season baru di masa mendatang, ada banyak pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi. Mereka perlu melakukan evaluasi naskah secara menyeluruh dan mengembalikan fokus cerita kepada esensi awalnya.
Anime Tojima Wants to be a Kamen Rider sejatinya memiliki premis brilian dengan potensi emosional yang masif bagi penonton dewasa. Hanya saja, untuk ke depannya, tim produksi harus berani memangkas elemen-elemen filler yang tidak perlu, merapikan plot yang berserakan, dan yang paling penting: mengembalikan sang "Kamen Rider" paruh baya kita ke kursi pengemudi utamanya di setiap episodenya.





Komentar
Posting Komentar