Armand Heryana Sang Pendekar Pedang Cikalong - Chapter 3 / 5: Balas Dendam si Cakar Perak


Armand Heryana: Sang Pendekar Pedang Cikalong

Chapter 3: Balas Dendam si Cakar Perak

Tiga minggu setelah penggerebekan gudang Cimahi, perguruan silat Armand kembali ramai dengan suara-suara latihan. Farid telah kembali berlatih dengan semangat yang lebih besar dari sebelumnya, seolah ingin menebus kesalahan ayahnya. Murid-murid lain juga mulai kembali menghormati guru mereka setelah mendengar cerita heroik penyelamatan Farid dari mulut ke mulut.

"Guru, teknik tangkisan tadi sepertinya beda dari yang biasanya," komentar Dedi setelah sesi latihan pagi.

Armand tersenyum sambil membersihkan keringat. "Itu teknik darurat yang kupelajari saat... pengalaman terakhir. Kadang situasi mengharuskan kita improvisasi."

Ia tidak menceritakan detail pertarungannya dengan Raden, tapi pengalaman itu memang mengubah cara pandangnya tentang silat. Tidak semua lawan bisa dikalahkan dengan kekuatan brute force—kadang butuh strategi dan adaptasi. Lebih dari itu, sejak insiden di gudang, koneksi spiritualnya dengan pedang pusaka terasa sedikit lebih responsif, meskipun masih jauh dari kondisi optimal seperti sebelum insiden di pulau itu.

"Ngomong-ngomong," Farid mendekati Armand setelah murid lain pulang, "ayah saya titip salam. Katanya terima kasih untuk bantuan hukumnya."

"Bagaimana kabarnya di rumah tahanan?"

"Baik. Pengacaranya bilang hukumannya mungkin bisa dikurangi karena dia kooperatif dan menyerahkan semua aset hasil kejahatan," Farid tersenyum sedih. "Tapi tetap saja, ayah saya akan kehilangan beberapa tahun terbaik hidupnya."

Armand menepuk bahu muridnya. "Yang penting dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan kau bisa membanggakan ayahmu suatu hari nanti."


Sore itu, Armand sedang merapikan peralatan perguruan ketika seseorang mengetuk pintu. Seorang pria bertubuh atletis dengan rambut cepak dan mata tajam berdiri di ambang pintu—Wira, anggota Singadwirya yang pernah menggantikan posisinya sebagai Jawara JaTI Jawa Barat selama lima bulan.

"Wira!" Armand menyambut dengan hangat. "Lama tidak bertemu. Masuk, masuk."

"Terima kasih," Wira masuk sambil mengamati perguruan. "Tempatnya bagus. Pantas saja murid-muridmu loyal."

"Duduk, aku buatkan teh," Armand menuju ke dapur kecil di belakang. "Ada apa datang ke sini? Bukannya kau bertugas di Sukabumi?"

"Itu yang mau kubicarakan," Wira duduk di kursi kayu sederhana. "Ratna menugaskanku untuk jadi cadanganmu beberapa minggu ke depan."

Armand kembali dengan dua gelas teh hangat, sedikit gemetar memegang baki—efek samping yang kadang muncul ketika ia tegang sejak pulih dari koma. "Cadangan? Ada apa?"

"Raden si Cakar Perak," Wira menyebutkan nama itu dengan serius. "Intel kami melaporkan dia sedang mengumpulkan kekuatan. Target utamanya kau."

"Aku sudah menduga dia akan kembali," Armand menyeruput tehnya, berusaha menenangkan diri. "Tapi kenapa harus cadangan? Aku bisa atasi dia sendiri."

"Bukan dia saja yang jadi masalah," Wira mengeluarkan tablet, menampilkan beberapa foto. "Dia berhasil merekrut empat mantan pengawal Ular Perak yang tidak terlibat dalam operasi terakhir. Plus beberapa penjahat jalanan yang punya dendam pribadi."

Armand mengamati foto-foto itu. Empat wajah yang tidak dikenalnya, tapi aura berbahaya terpancar dari mata mereka. Ada sesuatu tentang jumlah musuh yang terorganisir yang membuatnya teringat pada malam mengerikan di pulau itu—ketika tim JaTI yang seharusnya unggul malah terjepit.

"Yang pertama," Wira menunjuk foto pria botak bertato, "Kosim alias 'Besi Tua'. Mantan pengawal terkuat nomor satu Ular Perak. Spesialisasinya senjata tumpul—gada, martil, tongkat besi. Pernah memecahkan tulang belakang lima orang dalam satu pertarungan."

"Yang kedua," foto berikutnya menampilkan wanita berambut panjang dengan bekas luka di pipi, "Sari alias 'Racun Manis'. Pengawal nomor dua. Ahli racun dan senjata tersembunyi. Korbannya biasanya mati tanpa bekas luka eksternal."

Armand mengerutkan dahi. "Wanita?"

"Jangan meremehkan," Wira melanjutkan ke foto ketiga. "Yang ini Agus alias 'Bayangan Hitam', pengawal nomor empat. Master silat Betawi campur Tionghoa. Bisa bergerak tanpa suara dan menyerang dari titik buta."

"Dan yang terakhir," foto keempat menunjukkan pemuda dengan mata kosong, "Hendri alias 'Anak Setan'. Pengawal nomor lima, yang paling muda tapi paling sadis. Psikopat murni yang senang menyiksa korbannya sebelum membunuh."

"Kenapa mereka tidak terlibat saat operasi gudang?" tanya Armand.

"Kosim dan Sari sedang beraksi di luar kota. Agus terluka dalam operasi terpisah. Hendri baru keluar dari penjara seminggu sebelum penggerebekan," jelas Wira. "Tapi sekarang mereka semua sudah berkumpul di bawah komando Raden."

Armand meletakkan gelasnya, tangannya sedikit bergetar—kombinasi dari kemarahan dan trauma lama yang belum sepenuhnya pulih. "Apa nama kelompok barunya?"

"Cakar Perak. Sesuai julukan Raden yang sekarang jadi pimpinan," Wira menutup tabletnya. "Yang mengkhawatirkan, mereka tidak hanya menargetkanmu. Intel menunjukkan mereka juga mengamati orang-orang terdekatmu."

"Maksudnya?"

"Murid-muridmu, orangtuamu, bahkan pemilik warung tempat kau sering makan," Wira menatap Armand serius. "Raden tidak akan menyerangmu langsung. Dia akan menghancurkan hidupmu pelan-pelan, mulai dari orang-orang yang kau kenal dekat."

Jantung Armand berdetak lebih cepat. Skenario yang sama seperti di pulau itu—target yang ternyata lebih besar dari perkiraan, musuh yang beroperasi dari bayang-bayang, dan orang-orang tak bersalah yang terancam. "Bagaimana dengan pengamanan?"

"Kami sudah memasang penjagaan tidak langsung di beberapa titik. Tapi kau tahu sendiri, Singadwirya tidak punya sumber daya tak terbatas," Wira berdiri. "Makanya aku ditugaskan untuk bekerja sama denganmu. Dua Jawara lebih baik dari satu."

"Wira," Armand ikut berdiri, "aku berterima kasih. Tapi kau punya tanggung jawab di wilayahmu sendiri."

"Ratna sudah mengatur semuanya. Sukabumi aman untuk beberapa minggu ke depan," Wira menjabat tangan Armand. "Lagipula, aku juga penasaran dengan kemampuan Jawara yang berhasil memberantas satu jaringan narkoba sendirian."

Armand tersenyum pahit. "Jangan terlalu berharap. Aku masih jauh dari sempurna. Terutama setelah..." ia berhenti, hampir menyebut insiden di pulau itu.

"Setelah apa?"

"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita fokus pada Cakar Perak."

"Prajurit sempurna itu mitos," Wira menuju pintu. "Yang penting prajurit yang tidak pernah menyerah."


Malam itu, di sebuah gudang tua di pinggiran Bandung yang berbeda dari tempat Samsoel dulu, Raden berdiri di depan lima pengikut barunya. Tempat ini lebih gelap dan mencekam, dinding-dindingnya dipenuhi senjata tradisional dan modern.

"Teman-teman," Raden memulai dengan senyuman khasnya, "kita berkumpul di sini untuk satu tujuan: membalas dendam kepada Armand Heryana dan Singadwirya yang telah menghancurkan organisasi kita."

Kosim, pria botak bertato, memukul telapak tangannya dengan gada besi. "Gue udah gak sabar pengen ngremukkin tulang belakang tuh anak."

"Sabar, Kosim," Sari, wanita berambut panjang, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening. "Kematian yang perlahan jauh lebih memuaskan daripada yang seketika."

Agus, yang duduk di pojok seperti bayangan, berbicara tanpa menggerakkan bibirnya. "Target utama sudah saya amati. Pola hidupnya cukup mudah ditebak."

"Bagus," Raden mengangguk. "Tapi ingat, kita tidak akan menyerang dia langsung. Itu terlalu mudah dan tidak memuaskan."

Hendri, pemuda bermata kosong, tertawa kecil. "Jadi kita main-main dulu sama orang-orang di sekitarnya?"

"Tepat sekali," Raden berjalan menuju papan besar yang dipenuhi foto-foto. Di bagian tengah terpasang foto Armand, dikelilingi foto orang-orang terdekatnya. "Tahap pertama: perang psikologis. Kita buat dia paranoid, cemas, tidak bisa tidur nyenyak."

"Caranya?" tanya Kosim.

"Mulai dari yang kecil," Raden menunjuk foto warung makan langganan Armand. "Pak Asep, pemilik warung nasi gudeg favoritnya. Kita 'kunjungi' dia dulu."

Sari tersenyum manis yang mengerikan. "Racun lambat atau cepat?"

"Lambat. Kita tidak mau dia mati, hanya sakit parah," Raden beralih ke foto lain. "Lalu kita lanjut ke tukang fotokopi tempat dia sering cetak materi latihan. Terus bengkel tempat dia servis motor. Satu per satu."


Keesokan harinya, malam mulai turun ketika Pak Asep sibuk membersihkan warungnya setelah tutup. Pria berusia 50-an itu tidak menyadari ada dua bayangan mengawasinya dari gang gelap di seberang—dan satu lagi yang mengawasi mereka dari atap.

Wira sudah bertengger di atap warung seberang sejak sore, dengan peralatan pengawasan lengkap. Teleskop penglihatan malam, komunikator, dan kujang tradisional Jawa Barat tersembunyi di balik kostumnya. Ia melihat Kosim dan Sari bersiap bergerak.

"Wira kepada base," dia berbisik ke komunikator. "Target bersiap melakukan sabotase. Meminta izin intervensi."

Suara Ratna terdengar dari earpiece. "Diizinkan. Tapi prioritas keselamatan warga sipil."

"Siap."

Di bawah, Kosim dan Sari mulai bergerak.

"Target sendirian," bisik Kosim ke Sari. "Langsung eksekusi?"

"Tunggu sampai dia masuk ke dapur," Sari mengeluarkan botol kecil dari tasnya. "Aku akan campur racun ke dalam stock bumbu gudegnya. Besok pagi semua pelanggan yang makan di sana akan keracunan."

"Termasuk Armand?"

"Terutama Armand," Sari tersenyum dingin. "Dia selalu pesan gudeg istimewa yang pakai bumbu extra. Dosisnya akan lebih terkonsentrasi."

Mereka menunggu sampai Pak Asep masuk ke dapur belakang. Dengan gerakan seperti bayangan, Sari menyelinap masuk ke warung sementara Kosim berjaga di luar, gada besi tersembunyi di balik jaket.

Wira melihat saat yang tepat. Ia meluncur turun menggunakan tali, mendarat dengan hening di belakang Kosim.

"Selamat malam," ucap Wira dengan suara rendah.

Kosim tersentak dan langsung berbalik, mengayunkan gada besinya dengan kekuatan penuh. Wira mundur sekilas, gada melewati wajahnya hanya beberapa sentimeter.

"Sialan!" desis Kosim. "Singadwirya!"

Dari dalam warung, Sari mendengar keributan. Ia langsung keluar sambil melempar tiga jarum beracun ke arah Wira.

Wira menggunakan teknik silat Sukabumi, berputar menghindari jarum sambil melancarkan tendangan ke arah Sari. Wanita itu mundur dengan lincah, seperti ular yang mengelak.

"Kosim! Serangan gabungan!" teriak Sari.

Kosim maju dengan gada besi, ayunan beruntunnya membuat udara berdesis. Setiap pukulan memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan tulang, tapi Wira bergerak dengan kelincahan Jawara JaTI sejati.

Sementara itu, Sari menyerang dari samping dengan dua belati berracun. Gerakannya fluid seperti tarian, setiap serangan bertujuan melukai sedikit saja—cukup untuk memasukkan racun ke tubuh lawan.

Wira bertarung melawan dua musuh sekaligus di ruang terbatas gang sempit. Ia mengeluarkan kujang dari balik kostumnya—senjata tradisional Sunda yang tajam dan melengkung, sempurna untuk pertarungan jarak dekat.

"Kujang Pajajaran!" desis Sari mengenali senjata itu.

Dengan kujang di tangan, Wira menjadi jauh lebih berbahaya. Ia menggunakan dinding sebagai tumpuan, melompat menghindari ayunan gada Kosim sambil menebas pergelangan tangan Sari dengan kujang hingga satu belatinya terjatuh berlumuran darah.

"Gile, ni orang kuat banget!" Kosim mengayunkan gada horizontal, hampir mengenai kepala Wira.

"Racunnya belum masuk!" Sari frustrasi karena semua serangannya meleset.

Pertarungan semakin sengit. Wira melancarkan kombinasi serangan kujang dengan silat Sukabumi, serangannya cepat dan presisi. Bilah melengkung kujang beradu dengan gada besi Kosim, menghasilkan percikan api. Kosim mundur beberapa langkah, ada sayatan dalam di lengannya.

Tapi Sari memanfaatkan moment itu, melempar botol racun ke tanah hingga pecah dan mengeluarkan asap beracun.

"Gawat asapnya!" teriak Wira sambil menutup hidung.

Dalam kabut beracun, jarak pandang menurun drastis. Kosim dan Sari, yang sudah terbiasa dengan racun Sari, bergerak lebih bebas.

BRAK!

Gada Kosim mengenai bahu kiri Wira, membuatnya tersungkur dan kujang terlempar dari genggamannya. Sari langsung maju dengan belati, tapi Wira berguling menghindari tusukan mematikan itu sambil meraih kembali kujangnya.

"Sekarang!" teriak Sari.

Mereka bersiap melancarkan serangan pamungkas ketika tiba-tiba pintu warung terbuka.

"Ada apa ini?!" Pak Asep keluar dengan mata melotot, diikuti istri dan anaknya yang mendengar keributan.

"Pak, masuk! Bahaya!" teriak Wira.

Tapi sudah terlambat. Beberapa warga lain mulai keluar dari rumah mereka, penasaran dengan suara pertarungan. Gang yang sempit tiba-tiba dipenuhi orang-orang yang panik.

"Aduh! Ada perampok!" teriak ibu-ibu tetangga.

"Panggil polisi!"

"Anak-anak, masuk rumah!"

Kekacauan terjadi. Warga berlarian, ada yang masuk rumah, ada yang malah keluar untuk lihat. Pak Asep dan keluarganya ikut panik, berlari ke arah Wira tanpa sadar mereka justru menghalangi.

Sari dan Kosim saling bertatapan—ini moment yang mereka butuhkan.

"Kosim, sekarang!" bisik Sari.

Kosim mengangkat gada besinya tinggi-tinggi seolah akan memukul Pak Asep. "Minggir atau gue bunuh bapak tua ini!"

"JANGAN!" Wira secara refleks melompat melindungi Pak Asep, kujang masih tergenggam erat.

Tapi itu jebakan. Sari sudah bersiap dengan serbuk racun di telapak tangannya. Ketika Wira mendekat, dia meniup serbuk itu ke wajah Wira.

Wira menghirup sedikit, langsung merasa pusing dan mual. Bukan racun mematikan, tapi cukup untuk melumpuhkan sementara.

"Lari!" teriak Kosim.

Dalam kekacauan warga yang berteriak dan berlarian, Sari dan Kosim menghilang ke gang-gang yang lebih sempit, memanfaatkan kepanikan massa sebagai penyamaran sempurna.

Wira mencoba mengejar, tapi kakinya oleng karena efek racun. Ia hanya bisa melihat dua bayangan itu menghilang dalam kegelapan.

"Sial!" Wira memukul dinding dengan frustasi.


Lima belas menit kemudian, setelah tim medis Singadwirya memberikan antidot dan situasi terkendali, Wira duduk di kursi darurat sambil menahan mual.

"Armand," dia menelepon dengan suara parau. "Kita punya masalah besar."

"Ada apa?" suara Armand terdengar khawatir.


"Aku baru bertarung dengan Sari dan Kosim. Mereka... mereka bukan musuh biasa, Armand. Skill mereka luar biasa," Wira mengelap keringat dingin. "Kalau bukan karena warga yang tiba-tiba keluar, mungkin aku yang sekarang terbaring di rumah sakit."

"Kau terluka?"

"Racun ringan, sudah ditangani. Tapi yang penting, mereka berhasil sabotase bumbu gudeg Pak Asep. Untung kami deteksi sebelum warung buka."

Armand terdiam sejenak. "Jadi mereka benar-benar menargetkan orang-orang tak bersalah di sekitarku."

"Armand, dengar baik-baik," Wira berdiri meski masih sedikit oleng. "Kosim itu monster. Setiap ayunan gadanya bisa menghancurkan tulang. Dan Sari... dia seperti ular berbisa yang bisa menyerang dari segala arah."

"Bagaimana dengan yang lain? Agus dan Hendri?"

"Kalau dua orang tadi saja sudah sekuat itu, aku tidak bisa bayangkan seperti apa kemampuan yang lain," Wira menghela napas. "Kau harus bersiap menghadapi pertarungan yang jauh lebih berat dari yang kita perkirakan."

Setelah menutup telepon, Armand duduk di perguruan yang sepi. Untuk pertama kalinya sejak insiden di pulau itu, ia merasakan koneksi dengan pedang pusakanya menguat—bukan karena ketenangan, tapi karena amarah yang terkendali.

Raden dan anak buahnya sudah melewati batas. Mereka mengancam orang-orang tak bersalah, dan hampir berhasil membunuhnya melalui racun. Saatnya psychological warfare berubah menjadi confrontation langsung.

Dan di kejauhan, dari balik kaca gedung, Raden mengamati seluruh kejadian dengan teropong sambil tersenyum puas.

"Sempurna," bisiknya. "Tahap pertama berhasil. Armand mulai marah dan Singadwirya tahu mereka berhadapan dengan musuh yang serius. Sekarang saatnya tahap kedua. Agus, Hendri—giliran kalian."

BERSAMBUNG...


Character and Story Created by Riantrie

Original Art by Arya Pandu Pradana


Preview Chapter 4: "Ketika Bayangan Mulai Bergerak"

Setelah melihat kemampuan mengerikan Sari dan Kosim, Armand menyadari bahwa Cakar Perak bukan kelompok amatir. Dengan Wira masih pulih dari efek racun, Armand harus bersiap menghadapi Agus "Bayangan Hitam" dan Hendri "Anak Setan" yang menargetkan murid-muridnya. Tapi kali ini, ia tidak akan bermain defensif. Saatnya menunjukkan mengapa dia disebut Jawara Lembang yang brutal—dan mungkin, saatnya pedang pusaka Sunan Gunung Jati menunjukkan kekuatan sejatinya...


Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi melibatkan AI dengan sentuhan kreator, menggunakan prompt yang detail dari karya orisinalnya dari satu adegan ke adegan lain. Visual generated menggunakan prompt AI sesuai dengan karakteristik yang telah ditetapkan kreator sesuai standar ilustrator asli.

Komentar