Review Telat Satria Dewa: Gatotkaca, Kritik Penonton Terlalu Berlebihan Namun Tetap Harus Dibenahi

Satria Dewa Gatotkaca. (Poster teaser hak cipta Satria Dewa Studio via IMDb)


Antusiasme sejumlah sineas Tanah Air dalam menggarap genre film superhero (pahlawan super) atau yang juga diterjemahkan sebagai adisatria, masih mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat.

Terlihat melalui banyaknya komentar-komentar positif di media sosial yang berisi harapan-harapan bahwa film superhero Indonesia bisa menjadi salah satu karya fenomenal yang mendunia di masa depan.

Dua waralaba film adisatria Indonesia yang tengah menjadi sorotan besar adalah Jagat Sinema Bumilangit dan "Jagat Sinema Wayang" atau yang kini memiliki nama resmi Satria Dewa Semesta.

Pada tahun lalu, tepatnya 9 Juni 2022, kita disuguhkan oleh film perdana dari Satria Dewa Semesta garapan rumah produksi Satria Dewa Studio, yaitu film berjudul Satria Dewa: Gatotkaca.

Tentu saja bukan hal yang mudah bagi para sineas untuk mengejawantahkan sebuah kisah kuno India Mahabharata yang sering diceritakan para dalang melalui medium warisan budaya Indonesia, Wayang, ke dalam sebuah tontonan fiksi yang diramu dengan cerita, lingkungan serta karakter baru yang lebih modern.

Saya memang tak menyaksikan film ini baik itu di press screening maupun selama diputar di bioskop. Terlebih, selama pemutaran di bioskop, saya selalu membaca ulasan maupun komentar tak sedap di media sosial terhadap film Gatotkaca ini.

Beberapa hal yang diklaim sebagai kekurangan di mata para penonton, dari tulisan-tulisan yang saya baca di media sosial, adalah banyaknya iklan terselubung, lemahnya motivasi karakter utama, serta klimaks yang dianggap mengecewakan.

Para penonton malah banyak yang memuji dan mengagungkan penampilan Punakawan yang dimainkan oleh komika dan komedian senior Tanah Air.

Sebagai pelanggan Netflix, saya langsung menyaksikannya tanpa pikir dua kali begitu film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini tiba di layanan OTT tersebut pada 10 November 2022.

Setelah menyaksikannya, saya secara jujur merasa puas dengan konsep cerita dan pembangunan waralaba cerita ini yang benar-benar mengingatkan saya pada atmosfer kisah superhero Jepang macam Kamen Rider, Super Sentai atau Metal Heroes, dan serial-serial kartun Amerika Serikat atau serial live action Hollywood bergenre superhero.

Saya bahkan tak melihat iklan terselubung yang dikeluhkan sebagai pengganggu cerita. Bahkan saya menilai cara mengiklankan sejumlah sponsor disampaikan secara halus. Di mata saya, cara karakter utama menghadapi momen-momen krisis sudah terbilang cukup baik.

Klimaks film ini pun menurut saya sudah ditampilkan dengan matang karena para karakter utamanya mencari cara sendiri dalam menaklukkan antagonis utamanya tanpa harus ditolong oleh bantuan dadakan. Endingnya pun menurut saya sudah pas dalam membangun cerita untuk film-film selanjutnya di sebuah semesta tersendiri.

Saya juga memuji cara Hanung Bramantyo menggali secara detail terkait berbagai elemen dari kisah Mahabharata yang bisa sesuai dengan konsep fiksi dalam film ini. Salah satunya adalah konsep pertempuran gen Kurawa vs gen Pandawa yang keduanya tak semuanya baik ataupun jahat.

Namun memang harus saya akui, para sineas perlu berbenah diri dengan konsep film ini. Lantaran tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak kekurangan dalam film Satria Dewa: Gatotkaca.

Contoh saja repetisi sejumlah adegan krisis seperti adegan yang melibatkan karakter Yuda dan Dananjaya. Lalu tim sinematografi seolah kurang piawai dalam memainkan pencahayaan di adegan klimaks.

Bahkan menurut saya, humor yang disajikan oleh para Punawakan bisa berpotensi out of date dan bakal terdengar garing bila kita tonton lagi di masa depan.

Beberapa hal yang menjurus kepada kritik sosial, politik, bahkan yang menyangkut popularitas selebriti pun menurut saya ke depannya jangan terlalu dipikirkan karena selain tak relevan, mengekspos hal-hal serius terkait keresahan masyarakat di kehidupan nyata itu hanyalah membuang-buang energi. Kecuali kalau hal itu memiliki kaitan langsung yang vital terhadap pengembangan cerita dan klimaksnya.


Satria Dewa Gatotkaca. (Poster film hak cipta Satria Dewa Studio via IMDb)


Menurut pendapat saya, para sineas dan penulis skenario mungkin harus tetap berfokus dan menggunakan energi masing-masing pada penggarapan cerita, seperti yang pernah dilakukan oleh para penulis film-film Marvel Studios di fase awal Marvel Cinematic Universe.

Setelah Gatotkaca, saya melihat Satria Dewa Studio sedang berambisi menghidupkan kisah Arjuna, Srikandi, Yudhistira, dan Bima. Mereka juga sedang mengerjakan tiga film assemble alias "pertemuan" atau berkumpulnya para karakter dengan judul yang menimbulkan ekspektasi megah, yaitu Kurusetra, Bharatayudha dan Bharatayudha II.

Mungkin sejak film Arjuna, fokus mulai harus dikerahkan pada cara pembangunan karakter, motivasi, atau sesuatu yang dicari dan dituju. Serta konsep yang lebih unik namun tetap bisa membuat para penonton nyaman menyaksikannya.

Memasukkan elemen pewayangan dan kisah Mahabharata secara tepat, dan sanggup membuat penonton terbelalak sekaligus merinding, juga menjadi hal yang jitu untuk bisa menjadikan walaba ini sebagai mahakarya yang tak kalah dari film-film adaptasi komik Marvel ataupun DC.*

Untuk langkah yang sedikit detail per judul film-film selanjutnya, akan saya sampaikan pada artikel berikutnya.

Semoga Satria Dewa Semesta tetap bertahan dan bisa sukses menjadi tontonan yang bisa menghasilkan ulasan positif serta pendapatan yang tak kalah dari film-film horor Indonesia. 

Maju terus sinema adisatria Indonesia! (Riantrie)

*) Artikel ini bisa direvisi sewaktu-waktu untuk memperbaiki kekeliruan informasi maupun opini yang disampaikan.


Komentar