Perguruan Silat Cikalong Bandung - Sore Hari
Lima hari telah berlalu sejak serangan di warung Pak Asep. Dalam rentang waktu itu, Cakar Perak juga sempat menyerang tukang fotokopi langganan Armand dan bengkel motor di ujung gang - tapi kedua upaya itu berhasil digagalkan oleh patroli keamanan yang diperkuat Singadwirya. Suasana perguruan silat milik Armand kini terasa berbeda—lebih waspada, lebih tegang. Para murid berlatih dengan intensitas yang lebih tinggi, seolah merasakan bahwa ancaman sesungguhnya belum usai.
Armand berdiri di tengah lapangan latihan, mengawasi murid-muridnya yang sedang berlatih jurus dasar Cikalong. Matanya sesekali melirik ke arah gerbang perguruan, paranoia hasil trauma di pulau itu masih membayangi pikirannya. Koneksi spiritual dengan pedang pusakanya terasa lebih stabil dibanding beberapa hari lalu, meski belum sepenuhnya pulih.
"Guru, posisi kaki saya sudah benar belum?" tanya Deni, salah satu murid senior yang berusia 17 tahun.
"Sedikit lagi ke kanan, biar keseimbangan lebih mantap," jawab Armand sambil memperbaiki postur Deni. "Ingat, dalam silat Cikalong, kestabilan kaki adalah fondasi segala gerakan."
Wira, yang sedang membantu mengawasi latihan, tiba-tiba berjalan mendekat. Ekspresinya terlihat serius.
"Mand, kita perlu bicara," bisiknya pelan.
Armand mengangguk, lalu memanggil Farid yang sedang memimpin pemanasan kelompok junior. "Farid, tolong ambil alih latihan sebentar. Aku ada urusan penting."
Kedua jawara itu berjalan menuju ruang guru yang terletak di samping perguruan. Begitu pintu tertutup, Wira langsung berkata, "Intel dari Ratna baru saja masuk. Cakar Perak mulai bergerak lagi."
"Di mana?" tanya Armand, jari-jarinya refleks meraba gagang pedang pusaka yang tergantung di pinggangnya.
"Setelah gagal menyerang tukang fotokopi dan bengkel kemarin-kemarin, sekarang mereka ganti strategi. Agus dan Hendri diidentifikasi berkeliaran di sekitar sekolah tempat Deni dan beberapa murid lain belajar."
Armand mengepalkan tangan. Kemarahan mulai bergolak di dadanya, tapi kali ini lebih terkendali dibanding sebelumnya. "Mereka mulai menargetkan anak-anak."
"Ini tahap kedua dari strategi psikologis Raden," lanjut Wira. "Setelah gagal menggoyang mental kamu lewat serangan acak ke warung, fotokopi, dan bengkel, sekarang mereka fokus pada hal yang benar-benar kamu sayangi."
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh murid-muridku," desis Armand. Pedang pusakanya bergetar halus di sarungnya, merespon emosi tuannya yang mulai bangkit.
"Makanya, kita harus bertindak lebih dulu," kata Wira. "Kali ini, kita yang menyerang."
SMA Negeri 3 Bandung - Sore Hari
Deni berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama dua teman sekelasnya, Riko dan Bayu. Mereka masih asyik membahas latihan silat sore ini ketika Deni merasa ada yang tidak beres. Insting yang diajarkan Guru Armand mulai berteriak dalam benaknya.
"Kalian merasa diikuti tidak?" bisik Deni.
Riko menoleh ke belakang dengan hati-hati. "Kayaknya ada dua orang di belakang kita sejak dari sekolah."
"Agus Bayangan Hitam dan Hendri Anak Setan," gumam Deni, mengenali deskripsi yang diberikan Guru Armand kemarin. "Kalian ikuti aku, tapi jangan terlihat panik."
Ketiga pemuda itu berbelok ke arah gang sempit yang menuju warnet langganan mereka. Gang ini cukup sepi dan memiliki beberapa belokan—tempat yang pas untuk memerangkap atau melarikan diri.
Agus dan Hendri mengikuti dari jarak sekitar 20 meter. Agus, dengan tubuh kurus dan mata tajam khas silat Betawi-Tionghoa, bergerak tanpa suara. Sementara Hendri, yang termuda di antara anggota Cakar Perak, tersenyum sadis sambil memainkan pisau lipat di tangannya.
"Sepertinya anak-anak itu tahu kita mengikuti," kata Hendri dengan nada main-main.
"Bagus," jawab Agus dingin. "Ini akan lebih menarik."
Di Dalam Gang
Deni tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap kedua pengikut mereka. Riko dan Bayu mengikuti gerakan seniornya, meski jelas terlihat tegang.
"Kalian mau apa?" tanya Deni dengan suara tegas, meski jantungnya berdebar kencang.
Agus melangkah maju dengan gerakan yang halus seperti bayangan. "Cuma mau kenalan dengan murid-murid kesayangan Pendekar Lembang."
"Kami tidak punya urusan dengan kalian," kata Riko, mencoba terdengar berani.
Hendri terkekeh sambil memutar pisau lipatnya. "Sayangnya, kalian punya urusan dengan bos kami. Dia sangat ingin bertemu dengan guru kalian."
"Guru Armand tidak akan datang hanya karena kalian mengancam kami," kata Deni.
"Oh, tidak, tidak," Agus menggeleng sambil tersenyum tipis. "Kami tidak akan mengancam. Kami akan melakukan sesuatu yang jauh lebih... persuasif."
Tiba-tiba, Agus menghilang dari pandangan. Gerakannya begitu cepat dan sunyi hingga mata ketiga pemuda itu tidak bisa mengikuti. Detik berikutnya, dia sudah muncul di samping Bayu dengan tangan teracung untuk menyerang titik lemah di leher.
PLAAK!
Tangan Agus terhenti oleh sebuah kujang yang tiba-tiba muncul menghalangi serangannya.
"Maaf terlambat, anak-anak," kata Wira sambil meloncat turun dari tembok gang. "Perjalanan agak macet."
Hendri meringis kesal. "Wira si cadangan. Kamu selalu menggangu saja."
"Itu memang tugas seorang jawara," jawab Wira sambil memutar kujangnya dengan lincah. "Deni, bawa teman-teman kamu pergi dari sini. Sekarang!"
Ketiga murid itu tidak perlu diperintah dua kali. Mereka berlari menuju ujung gang dengan cepat.
Agus mundur beberapa langkah, menilai lawan barunya. "Kujang tradisional Jawa Barat. Kamu memang jawara tulen, bukan seperti penipu-penipu lainnya."
"Aku tidak suka omong kosong," kata Wira. "Kalian mau apa dari murid-murid itu?"
"Simpel," jawab Hendri sambil menggerak-gerakkan pisau lipatnya. "Kami mau guru mereka datang dan bermain dengan kami."
"Kalau begitu, aku saja lawannya," kata Wira. "Kalian tidak perlu repot-repot mengancam anak-anak."
Agus tertawa pelan. "Kamu pikir kamu cukup untuk kami berdua?"
"Coba saja."
Pertarungan di Gang Sempit
Hendri menyerang pertama dengan pisau lipatnya, gerakan yang cepat dan liar tanpa pola yang jelas—ciri khas psikopat yang bertarung berdasarkan insting membunuh. Wira menghindar dengan memundurkan tubuh dan mengayunkan kujangnya dari bawah, memaksa Hendri melompat mundur.
Saat itu juga, Agus muncul dari titik buta Wira—samping kiri yang terhalang oleh tembok gang. Tangannya menyerang dengan gerakan silat Betawi-Tionghoa yang mengutamakan serangan cepat ke titik-titik vital.
Wira memutar tubuhnya sambil menurunkan kujang untuk menghalau serangan Agus, lalu segera mengangkatnya lagi untuk menangkis pisau Hendri yang datang dari atas.
TING! TING! SRING!
Suara benturan logam bergema di gang sempit itu. Wira bertarung dengan gaya bertahan aktif—menggunakan kujangnya tidak hanya untuk menyerang, tapi juga sebagai perisai dan alat kontrol jarak.
"Tidak buruk untuk seorang cadangan," ejek Agus sambil melancarkan serangan kombinasi: tendangan rendah diikuti pukulan lurus ke solar plexus.
Wira melompat ke samping sambil mengayunkan kujang secara horizontal, memaksa Agus mundur. Tapi Hendri sudah siap dengan serangan susulan—pisau lipat dari arah berlawanan.
"Satu lawan dua memang tidak adil," gumam Wira sambil memutar kujangnya untuk menghalau serangan beruntun. "Tapi kalian lupa satu hal."
"Apa?" tanya Hendri sambil menyeringai.
"Aku punya cadangan juga."
WUUUSH!
Tiba-tiba, sebuah pedang pusaka melayang dan tertancap di tanah tepat di antara Agus dan Hendri, memisahkan mereka dari Wira. Energi spiritual yang samar-samar terpancar dari bilah pedang, membuat kedua anggota Cakar Perak itu mundur instingtif.
"Menyerang murid-muridku adalah kesalahan terbesar kalian," kata Armand yang baru saja mendarat di ujung gang dengan mata berkilat marah.
Pedang pusakanya bergetar dan terbang kembali ke tangannya dengan sendirinya—tanda bahwa koneksi spiritualnya mulai menguat.
"Akhirnya muncul juga," kata Agus dengan senyum dingin. "Raden menunggu kamu, Pendekar Lembang."
"Dia bisa menunggu selamanya," jawab Armand sambil menggenggam pedang pusakanya dengan kuat. "Kalian tidak akan pernah sampai padanya."
Hendri tertawa histeris. "Kamu pikir kamu bisa melawan kami semua?"
"Tidak," kata Armand sambil melirik Wira. "Kami."
Wira merasakan perubahan energi di sekitar Armand. Ada kekuatan yang mulai bangkit - berbeda dari trauma yang selama ini menghantuinya.
Kombinasi Armand dan Wira
Yang terjadi selanjutnya adalah pertarungan yang menunjukkan mengapa Armand dan Wira dianggap sebagai duo jawara terbaik Jawa Barat. Mereka bertarung dengan sinkronisasi yang sempurna—pedang pusaka dan kujang saling melengkapi dalam setiap gerakan.
Armand mengambil posisi di depan dengan gaya silat Cikalong yang mengutamakan serangan langsung dan tegas. Pedang pusakanya bergerak dalam pola yang sudah turun-temurun, setiap ayunan diperkuat oleh energi spiritual leluhur yang mulai bangkit.
Wira mengambil posisi support di samping, menggunakan kujangnya untuk mengontrol pergerakan musuh dan memberi celah bagi Armand untuk melancarkan serangan mematikan.
Agus mencoba menggunakan keahliannya menyerang dari titik buta, tapi Wira selalu siap menangkis dengan kujangnya. Sementara Hendri yang bertarung dengan gaya liar dan tidak terprediksi, selalu dihentikan oleh Armand dengan gerakan silat Cikalong yang presisi.
"Kalian tidak akan bisa menang!" teriak Hendri sambil melancarkan serangan nekat dengan pisau lipatnya.
Armand menangkis dengan mudah, lalu membalas dengan gerakan khas Cikalong—pedang pusaka berputar dalam lingkaran lebar sambil melangkah maju, memaksa Hendri mundur hingga punggungnya menabrak tembok.
Di saat yang sama, Wira melancarkan serangan kombinasi pada Agus: kujang menyapu kaki, diikuti dengan serangan mendatar yang menargetkan perut. Agus berhasil menghindar dari serangan pertama, tapi yang kedua mengenai tulang rusuknya.
"Argh!" Agus terjatuh sambil memegangi rusuknya yang retak.
Hendri melihat rekannya terluka dan menjadi semakin putus asa. Dia melancarkan serangan bunuh diri—langsung maju dengan pisau lipat teracung, tidak peduli dengan pertahanan.
Armand menghindari serangan itu dengan mudah, lalu memukul pergelangan tangan Hendri dengan gagang pedang pusakanya. Pisau lipat itu terpental jauh.
"Serah diri sekarang," kata Armand dengan suara dingin. "Atau aku akan menunjukkan mengapa mereka menyebutku Pendekar Lembang yang brutal."
Agus dan Hendri saling bertatapan. Mereka tahu mereka kalah telak.
"Ini belum selesai," kata Agus sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah granat asap. "Raden masih punya satu kartu terakhir."
POOF!
Asap tebal langsung memenuhi gang sempit itu. Ketika asap mulai menipis, Agus dan Hendri sudah menghilang.
"Sial," gumam Wira. "Mereka kabur."
Armand mengangguk sambil memasukkan pedang pusakanya ke sarung. "Tapi sekarang aku tahu di mana kita berdiri. Koneksi spiritual dengan pedang mulai pulih. Trauma di pulau itu tidak akan menghalangi lagi."
"Apa maksudmu 'kartu terakhir' Raden?" tanya Wira.
Armand terdiam sejenak. Insting jawaranya berkata bahwa yang terburuk belum tiba. "Entahlah. Tapi aku punya firasat buruk tentang ini."
Markas Sementara Cakar Perak - Malam Hari
Di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran Bandung, Raden duduk di kursi bekas sambil menunggu laporan dari anak buahnya. Agus dan Hendri datang dengan tubuh penuh luka dan ekspresi kesal.
"Gagal lagi?" tanya Raden dengan nada datar.
"Armand dan Wira datang sekaligus," jawab Agus sambil memegangi rusuknya yang masih sakit. "Mereka bertarung dengan koordinasi yang sempurna."
"Dan Armand... ada yang berubah dari dirinya," tambah Hendri. "Pedang pusakanya bergerak sendiri. Energi spiritualnya mulai bangkit."
Raden tersenyum tipis. "Bagus. Itu artinya dia mulai pulih dari trauma di pulau itu. Saatnya menggunakan kartu terakhir."
"Apa maksudmu, bos?" tanya Agus.
Raden berdiri dan berjalan menuju jendela gudang. Di kejauhan, lampu-lampu kota Bandung berkelap-kelip seperti bintang.
"Selama ini kita main-main dengan psikologi," kata Raden. "Tapi sekarang saatnya bermain dengan sesuatu yang lebih nyata. Lebih... personal."
Dia berbalik menghadap anak buahnya dengan senyum sadis yang mengerikan.
"Sari, hubungi kontak kita di Empat Naga. Katakan bahwa kita membutuhkan... bantuan yang lebih canggih."
Sari "Racun Manis" keluar dari bayang-bayang sudut gudang. "Apa yang kamu rencanakan, Raden?"
"Sesuatu yang akan membuat Armand tidak punya pilihan selain datang kepada kita," jawab Raden sambil mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto yang membuat semua anggota Cakar Perak terdiam.
Di layar ponsel itu, terlihat foto Farid yang sedang berjalan pulang dari perguruan malam ini.
"Anak yang dia sayangi seperti adik sendiri," kata Raden dengan suara berbahaya. "Mari kita lihat seberapa jauh Pendekar Lembang bersedia pergi untuk menyelamatkan keluarga spiritualnya."
Kosim yang sejak tadi diam di pojok gudang tiba-tiba angkat bicara, "Bos, anak itu kan tidak bersalah..."
"Tidak ada yang tidak bersalah dalam perang ini," potong Raden dengan tatapan mematikan. "Armand sudah membuat pilihan ketika dia memutuskan untuk melawan kita. Sekarang dia harus menanggung konsekuensinya."
Sari mengangguk sambil menyiapkan peralatan racunnya. "Kapan kita mulai?"
"Besok malam," jawab Raden. "Saat perguruan sepi dan Armand lengah karena mengira ancaman sudah berlalu."
Perguruan Silat Cikalong - Malam Hari
Armand duduk sendirian di lapangan latihan yang sudah sepi. Pedang pusakanya tergeletak di pangkuannya, masih bergetar halus dengan energi spiritual yang baru saja bangkit.
Farid datang menghampiri dengan dua gelas teh hangat. "Guru, kenapa belum pulang?"
"Sedang berpikir," jawab Armand sambil menerima gelas teh. "Hari ini koneksi spiritual dengan pedang pusaka mulai pulih. Tapi aku merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi."
"Soal Cakar Perak?"
Armand mengangguk. "Raden tidak akan menyerah begitu saja. Dia masih punya rencana lain."
Farid duduk di samping gurunya. "Ayah pernah bilang, kadang-kadang kita harus menghadapi badai untuk bisa melihat matahari lagi."
"Ayahmu bijaksana," kata Armand sambil tersenyum tipis. "Meski dia sempat tersesat, tapi dia tetap punya hati yang baik."
"Guru," kata Farid dengan nada serius. "Kalau terjadi sesuatu pada saya, jangan biarkan kemarahan menguasai diri Guru."
Armand menoleh dengan ekspresi terkejut. "Kenapa kamu bilang begitu?"
"Entahlah. Cuma perasaan saja," jawab Farid sambil mengangkat bahu. "Tapi saya tahu Guru itu orang baik. Jangan sampai dendam mengubah hati Guru."
Armand menatap muridnya dengan mata berkaca-kaca. Seolah kata-kata Farid mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar nasihat biasa.
"Farid," kata Armand pelan. "Apapun yang terjadi, ingatlah bahwa kamu adalah murid terbaik yang pernah aku punya."
Mereka berdua terdiam, menikmati ketenangan malam yang terasa begitu berharga. Ada sesuatu dalam hening itu yang membuat keduanya merasa ini adalah saat yang harus disyukuri - sebuah kedamaian yang mungkin tidak akan bertahan lama.
Di kejauhan, bayangan-bayangan gelap mulai bergerak menuju perguruan, membawa rencana yang akan mengubah segalanya.
[Bersambung ke Chapter 5: Pendekar Cikalong Bangkit]
Character and Story Created by Riantrie
Original Art by Arya Pandu Pradana
Momentum menuju climax di Chapter 5, Armand akan mengalami full awakening sebagai Pendekar Cikalong setelah menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya.
Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi melibatkan AI dengan sentuhan kreator, menggunakan prompt yang detail dari karya orisinalnya dari satu adegan ke adegan lain. Visual generated menggunakan prompt AI sesuai dengan karakteristik yang telah ditetapkan kreator sesuai standar ilustrator asli.
Komentar
Posting Komentar