OPERASI TENGGELAM: Kegagalan Tim JaTI - Bagian I / II: Ketika Pemburu Menjadi Mangsa (Flashback Story)
OPERASI TENGGELAM: Kegagalan Tim JaTI - Bagian I
Jejak yang Menghilang
Delapan bulan yang lalu - Pulau Tikus Mati, Utara Jakarta
Kapal patroli Singadwirya membelah gelombang Laut Jawa di tengah kegelapan malam. Di geladak, sepuluh sosok berdiri dalam keheningan—lima anggota JaTI muda dan lima agen Singadwirya berpengalaman. Pulau yang mereka tuju bahkan tidak ada dalam peta navigasi resmi.
"Tim Alpha akan mengamankan pantai timur, Tim Bravo masuk dari barat," Komandan Surya memberikan instruksi terakhir kepada lima agen Singadwirya-nya. Pria paruh baya dengan bekas luka peluru di dahi itu menatap lima anggota JaTI muda. "Kalian ikut rute tengah setelah kedua tim mengamankan perimeter."
Armand Heryana menyentuh pedang pusaka Sunan Gunung Jati yang tersampir di pinggangnya. Warisan leluhur dengan kekuatan mistik yang sudah terbukti dalam berbagai pertempuran. "Dari arahan yang diberikan, target kita adalah laboratorium gelap yang memproduksi senjata kimia menggunakan teknologi yang tidak dikenal."
Darian Sentanu menggerakkan jari-jarinya, merasakan brass knuckle logam tersembunyi di balik sarung tangan hitamnya. Kemampuan bergerak efektif dalam kegelapan—warisan alami keluarganya—membuatnya ideal untuk misi malam seperti ini. "Intuisi saya mengatakan ada yang tidak beres dengan intel yang kita terima."
Ahya Halimah merapatkan selendang hijau zamrudnya sambil mengingat gerakan-gerakan Pencak Silat Siwah yang sudah dikuasainya. Perasaan gelisah mengganggu konsentrasinya. "Kenapa informasi tentang pulau ini begitu minim?"
Randal Butar-Butar duduk tenang, mantel hitam teleportasinya bergerak pelan mengikuti angin laut. Kemampuan teleportasinya dalam kondisi prima setelah latihan intensif tiga bulan terakhir. Ia mengingat latihan Mossak yang diasah selama bertahun-tahun—kombinasi sempurna antara bela diri tradisional Batak dan teknologi supernatural. "Semoga misi ini berjalan lancar," gumamnya sambil menyentuh kalung salib kecil.
Redana Papare memeriksa senjata tradisional Papua-nya—kapak batu di pinggang kanan, tombak di punggung, anak panah di pinggang kiri. Sayap elang di punggungnya sudah cukup stabil untuk penerbangan jarak menengah. "Senjata leluhur siap tempur."
Komandan Surya memeriksa komunikator untuk terakhir kali. "Tim Alpha, Tim Bravo, laporkan posisi."
"Tim Alpha sudah mendarat di pantai timur. Tidak ada perlawanan. Terlalu sepi," suara Letnan Jaka terdengar dari radio.
"Tim Bravo di pantai barat. Situasi sama—tidak ada penjagaan sama sekali," laporan Sersan Budi.
Armand mengernyitkan dahi. "Untuk laboratorium rahasia, ini terlalu mudah."
Perahu karet yang membawa tim JaTI mendarat di pantai berbatu. Mereka bergerak dalam formasi—Darian dan Armand memimpin dengan kemampuan tempur jarak dekat, Ahya dan Redana di tengah untuk serangan udara dan darat, Randal di belakang untuk teleportasi taktis.
Pulau itu sunyi mencekam. Terlalu sunyi.
Hutan yang mereka lalui tampak normal dari luar, namun setelah beberapa langkah, mereka menyadari tidak ada suara satwa malam sama sekali. Bahkan serangga pun tidak terdengar. Tanah di bawah kaki mereka terasa aneh—lengket dan mengeluarkan bau kimia samar.
"Redana, kamu merasakan sesuatu?" tanya Armand.
Mata tajam Redana menyapu sekeliling, indra elangnya menangkap hal yang tidak normal. "Tidak ada kehidupan di sini. Bahkan burung tidak berani mendekati pulau ini."
Mereka melaju menuju pusat pulau. Di kejauhan, lampu-lampu fasilitas mulai terlihat—sebuah kompleks bangunan beton yang dikelilingi pagar tinggi. Namun yang aneh, pagar itu tampak dirancang bukan untuk menghalangi penyusup masuk, melainkan untuk menahan sesuatu agar tidak keluar.
"Ada yang janggal," bisik Darian sambil mengamati pola penjagaan. "Pengawal-pengawal itu... gerakan mereka terlalu mekanis."
Dari komunikator mereka, suara Komandan Surya terdengar tegang: "Tim Alpha tidak merespons. Tim Bravo juga hilang kontak. Kalian harus segera keluar dari sana!"
Tapi sinyal komunikator mulai terganggu. Suara Komandan Surya terpotong-potong sebelum akhirnya hilang sama sekali.
"Kita sudah terlanjur masuk," kata Ahya, meski kegelisahannya makin kuat. "Tidak ada pilihan selain maju."
Yang tidak mereka ketahui, dari gedung tertinggi kompleks itu, sepasang mata sudah memantau pergerakan mereka sejak mereka mendarat...
Seorang wanita cantik berambut panjang berdiri di balik kaca anti peluru, senyum dingin mengembang di wajahnya.
"Kelinci percobaan sudah masuk arena," katanya kepada sosok pria paruh baya tegap di sampingnya yang mengenakan jas hitam. "Siapkan fase pertama, Mahesa."
Mahesa Sudarko menatap layar monitor dengan mata dingin. Mantan agen senior Singadwirya itu tahu persis pola operasi dan kelemahan tim JaTI. "Diana, setelah bertahun-tahun, akhirnya kita bisa membalas dendam pada mereka yang mengkhianati kita."
Diana Arum tersenyum kejam sambil menyentuh kontrol panel. Mantan teknisi Empat Naga itu menguasai segala hal tentang teknologi Batu Langit. "Singadwirya akan tahu betapa bodohnya mereka membuang agen terbaik mereka. Dan organisasi kriminal Empat Naga akan menyesal pernah memburu kita."
"Bagaimana dengan dua tim Singadwirya yang sudah kita tangani?" tanya Mahesa.
"Banyak yang sudah tewas, sisanya terluka parah tapi masih hidup—biarkan sebagai saksi betapa mengerikannya kita," jawab Diana sambil menatap layar monitor yang menampilkan mayat-mayat di pantai timur dan barat. "Yang penting sekarang adalah target utama."
Di bawah kompleks, dalam laboratorium yang tidak terdeteksi oleh satelit mana pun, sebuah struktur aneh seperti makam kuno mulai berpendar. Di dalamnya, sosok yang terbungkus kain usang mulai bergerak setelah berabad-abad dalam keadaan mati suri.
"Akhirnya," bisik Diana dengan mata berbinar. "Salah satu peri tertua yang kami temukan di pulau ini akan bangkit. Kekuatan yang akan membuat Singadwirya dan Empat Naga berlutut."
Tim JaTI muda itu masih melangkah dengan hati-hati, tidak menyadari mereka bukan datang untuk menghentikan eksperimen.
Mereka adalah kunci untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur selamanya.
Ketika Pemburu Menjadi Mangsa
Pulau Tikus Mati - Kompleks Laboratorium Rahasia
Infiltrasi berjalan sesuai rencana. Terlalu sesuai rencana.
Randal melakukan teleportasi diri ke dalam kompleks dengan sempurna, muncul tepat di titik yang dituju tanpa masalah. Mantel kegelapannya berfungsi normal. "Area aman, kalian bisa masuk."
Ahya melayang dengan selendangnya, membawa Armand dan Darian ke dalam area. Redana terbang dengan sayap elang yang stabil, senjata tradisional Papua-nya siap digunakan kapan saja.
"Terlalu mudah," gumam Armand sambil memegang pedang pusaka. Bilah kuno itu berkilau samar—tanda ada energi mistik di sekitar mereka, tapi belum cukup kuat untuk membangunkan kekuatan penuh.
Mereka bergerak lebih dalam ke kompleks. Koridor demi koridor kosong, hanya tersisa peralatan laboratorium yang setengah dibongkar. Namun Darian, dengan kemampuan alami bergerak dalam kegelapan, merasakan sesuatu yang aneh.
"Ada panas tubuh tersembunyi di sekitar kita," bisiknya sambil menyiapkan brass knuckle logamnya. "Banyak sekali."
Redana mengangkat kapak batunya, mata elangnya menangkap gerakan-gerakan samar di balik tembok. "Mereka mengepung kita dari segala arah."
"Jebakan," kata Ahya dengan suara datar sambil memosisikan diri dalam kuda-kuda Silat Siwah.
Tiba-tiba, dinding-dinding di sekeliling mereka meledak bersamaan. Dari sana, muncul sekitar 30 sosok berpakaian serba hitam dengan senjata-senjata energi berwarna merah menyala—teknologi yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Selamat datang di rumah yang terakhir kalian kunjungi," suara Diana Arum bergema dari speaker tersembunyi.
Pertempuran pecah dengan dahsyat. Rupanya beberapa orang di antara mereka memiliki kemampuan super. Ada yang bisa melompat tinggi, ada pula yang pukulannya sanggup meretakkan dinding.
Armand mengayunkan pedang pusaka dengan gerakan Silat Cikalong yang sempurna, memotong senjata energi musuh. Bilah kuno itu berkilau terang setiap kali mengenai teknologi asing.
"Senjata mereka menggunakan energi yang belum pernah kita lihat!" teriaknya sambil menebas tiga penyerang sekaligus.
Darian bergerak seperti bayangan, brass knuckle-nya menghantam titik-titik vital dengan presisi mematikan. Kemampuan alami bergerak dalam kegelapannya membuatnya hampir tak terlihat di antara bayangan kompleks.
"Hati-hati, beberapa di antara mereka punya kekuatan super! Mungkin batu langit!" Darian memperingatkan.
Ahya melancarkan serangan Silat Siwah yang mematikan. Selendang hijau zamrudnya yang biasa ia gunakan untuk terbang, berputar seperti cambuk, melilitkan leher musuh sambil kakinya menendang dengan kecepatan luar biasa.
"Formasi mereka terlalu rapi!" teriak Ahya sambil menghindari sengatan listrik dari senjata energi. "Ini bukan serangan spontan!"
Redana terbang dengan sayap elangnya, melemparkan kapak batu dan tombak dengan akurasi tinggi. Anak panah tradisionalnya mengenai sasaran satu per satu. "Jumlah mereka terus bertambah!"
Randal melakukan teleportasi dengan pola acak, muncul di belakang musuh dan menghilang sebelum mereka bisa bereaksi. Kombinasi teleportasi dan gerakan Mossak membuatnya tak bisa diprediksi—melakukan teleportasi untuk mengatur posisi, lalu melancarkan teknik bela diri tradisional Batak dengan presisi tinggi sebelum teleportasi lagi. Mantel hitamnya bergerak seperti asap, menyulitkan musuh untuk menangkapnya.
"Kita harus mencari jalan keluar!" teriaknya sambil muncul di samping Armand setelah melumpuhkan dua penyerang.
Namun tiba-tiba, dari langit-langit turun puluhan drone kecil berteknologi canggih. Mata merah tiap unit berkilat, menganalisis setiap gerakan tim JaTI.
"Mereka seperti mempelajari cara bertarung kita," kata Darian dengan was-was.
Drone-drone itu terbang dengan formasi yang aneh, seolah mencari sesuatu. Beberapa mengejar Randal yang sedang teleportasi, seolah bisa memprediksi ke mana ia akan muncul.
"Randal, hati-hati!" teriak Ahya.
Terlambat. Ketika Randal mencoba teleportasi berikutnya, ia muncul tepat di hadapan tiga drone yang sudah menunggu. Sengatan listrik dari drone langsung mengenai mantelnya, menyebabkan sistem teleportasi menjadi kacau.
"Mantelku... tidak merespons dengan benar," kata Randal panik. Ia mencoba teleportasi lagi, namun kali ini muncul di tempat yang salah—menabrak dinding keras. Tapi refleks Mossak yang sudah terasah bertahun-tahun membuatnya langsung berguling dan bangkit dengan sikap pertahanan, menghindari serangan lanjutan drone dengan gerakan bela diri tradisional.
Drone-drone lain mulai menyerang dengan pola yang semakin terkoordinasi. Mereka seolah sudah mempelajari gaya bertarung masing-masing anggota tim.
"Mereka menganalisis kemampuan kita," kata Armand sambil mengayunkan pedang, namun drone-drone itu bergerak dengan pola yang mengantisipasi serangannya.
Ahya mencoba gerakan Silat Siwah yang berbeda, namun drone-drone itu seolah sudah tahu dan menghindari serangannya. "Mereka belajar dari gerakan sebelumnya!"
Redana melempar tombaknya, namun drone menghindari dengan mudah. "Ini tidak wajar!"
Dari speaker, suara Mahesa terdengar bangga: "Teknologi prediktif yang saya kembangkan saat masih di Singadwirya. Drone-drone itu bisa mempelajari pola bertarung kalian dan mengantisipasinya."
"Dan saya yang memberikan teknologi senjata energi dari Empat Naga," tambah Diana. "Kombinasi sempurna dari kedua organisasi yang pernah mengkhianati kami."
Situasi mulai berbalik. Drone-drone itu semakin agresif dan terkoordinasi. Tim JaTI yang tadinya mendominasi kini mulai terdesak.
Randal tidak bisa teleportasi dengan benar, terus muncul di tempat yang salah atau malah terjebak di dinding. Tapi ia masih mengandalkan kemampuan Mossak untuk bertahan—gerakan tangannya yang terlatih melumpuhkan drone yang mendekat, kaki menendang dengan kekuatan penuh, dan refleks tempur yang diasah 3 tahun membuatnya tetap bertahan meski dalam kondisi sulit.
Sementara Ahya yang juga sempat melumpuhkan beberapa drone dengan teknik Siwah lebih lincah mulai kewalahan karena gerakannya makin bisa diprediksi.
Redana yang juga berhasil menghancurkan dengan senjata-senjatanya, kesulitan karena baik kapak maupun anak panahnya kini dihindari dengan mudah.
Darian juga awalnya mulai terbiasa hingga menjatuhkan beberapa drone, pada akhirnya hanya sanggup untuk menghindari serangan-serangan yang makin tak terduga.
"Kita harus mengubah strategi!" teriak Armand yang juga telah menghancurkan sejumlah drone dengan susah payah melalui sabetan pedangnya tapi kini makin kesulitan.
Namun tiba-tiba, dari ventilasi udara, gas berwarna hijau mulai menyebar ke seluruh ruangan.
"Gas neural!" teriak Darian sambil menutup hidung dengan lengan.
Tapi sudah terlambat. Gas itu mulai memengaruhi kemampuan supernatural mereka. Selendang Ahya mulai terasa berat, sayap Redana mulai mengerut, mantel Randal semakin tidak responsif, dan bahkan pedang pusaka Armand mulai meredup kilaunya.
"Kemampuan kita mulai melemah!" teriak Ahya sambil terjatuh karena selendangnya kehilangan daya.
Yang lebih mengerikan, drone-drone itu tidak terpengaruh gas dan semakin agresif. Mereka mulai menyerang dengan koordinasi yang sempurna.
Satu per satu, tim JaTI muda itu mulai terjatuh, kemampuan supernatural mereka semakin memudar karena efek gas neural yang terus mengalir.
BERSAMBUNG...
Created by Riantrie
Disclaimer: Cerita ini hanya bersifat pengenalan karakter dan atmosfer yang dibangun. Dialog serta beberapa narasi melibatkan AI dengan sentuhan kreator, menggunakan prompt yang detail dari karya orisinalnya dari satu adegan ke adegan lain. Visual generated menggunakan prompt AI sesuai dengan karakteristik yang telah ditetapkan kreator berdasarkan standar ilustrasi orisinal.
Komentar
Posting Komentar